Jawa Pos Radar Lawu - Pola asuh orang tua merupakan dasar untuk membentuk karakter seorang anak, namun belakangan sering kita temui generasi yang memiliki karakter rapuh atau yang lebih dikenal dengan generasi strawberry.
Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen dan penulis buku generasi strawberry memperkenalkan bahwa generasi ini tumbuh akibat dari strawberry parenting.
Pola asuh menjadi tolak ukur akankah anak-anak akan tumbuh sebagai generasi yang memiliki jiwa kuat dan tahan banting atau malah menjadi generasi strawberry yang rapuh dan rentan terhadap tekanan.
Sebagai generasi yang hidup di era digitalisasi dengan berbagai macam tekanan sosial, anak muda sering menghadapi standar hidup yang tinggi. Hal tersebut bisa bersumber dari lingkungan maupun dari dalam dirinya sendiri.
Dalam menghadapi standar yang tinggi tersebut kemudian muncullah istilah perform well (kinerja yang baik) atau perfectionist (kesempurnaan) untuk mencapai standar tersebut.
Lalu manakah yang lebih baik antara perform well atau perfectionist?
Perfectionist
Perfectionist adalah sifat yang sering diasosiasikan sebagai pencapaian tinggi.
Anak-anak yang tumbuh dengan tuntutan kesempurnaan ini cenderung memiliki jiwa pekerja keras, disiplin, dan selalu berorientasi pada hasil.
Dan tentu saja saat seseorang terlalu berambisi dan fokus pada kesempurnaan hasil akhir akan mengakibatkan dampak yang buruk.
Anak-anak dengan orang tua yang perfectionist biasanya sering merasa terbebani oleh ekspektasi tinggi orang tuanya, jadi mereka akan mudah merasa gagal meskipun sudah berusaha keras
Kemudian tekanan tersebut akan berdampak pada kesehatan mental mereka seperti stres, gangguan cemas, bahkan depresi.
Apalagi generasi strawberry merupakan generasi yang cenderung sensitif terhadap kritik.
Perform Well
Pendekatan pola asuh perform well lebih menekankan proses dan usaha serta mengajarkan anak kemampuan untuk belajar dari kesalahan.
Pola asuh ini mengajarkan anak untuk menikmati proses perjalanan menuju tujuan bukan hanya fokus pada hasil akhirnya saja.
Dengan memfokuskan diri pada perkembangan pola pikir akan mendorong anak-anak untuk berkembang sesuai dengan potensi yang mereka miliki tanpa harus merasakan tekanan.
Bukankah lebih baik untuk mengajarkan anak menjadi juara kehidupan dengan memahami seluruh nilai-nilai, dari pada memaksa anak untuk mempelajari segala hal dan mengharuskan mereka menguasai semua bidang tersebut.
Pola asuh dengan pendekatan form well lebih cocok bagi generasi strawberry yang membutuhkan lingkungan suportif.
Sehingga mereka tidak akan takut untuk menghadapi tantangan, dengan dukungan yang tepat mereka dapat belajar bahwa kegagalan adalah hal yang wajar dan bagian dari kehidupan. (kid)
Editor : Nur Wachid