Jawa Pos Radar Lawu - Indonesia saat ini berada pada kondisi di mana generasi muda mendominasi populasi penduduk. Generasi muda yang akhir-akhir ini sering menjadi perbincangan karena dekat dengan stigma mental generasi strawberry.
Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan kemajuan teknologi dan informasi. Generasi strawberry kerap mendapatkan pujian karena memiliki kecerdasan, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan.
Namun dibalik itu, generasi strawberry menyimpan luka pada batinnya. Generasi ini dikenal memiliki mental yang rapuh dan rentan terhadap tekanan atau kritik.
Salah satu urgensi generasi strawberry adalah perkembangan psikologis mereka yang tidak bisa dianggap remeh.
Anak-anak yang terbiasa tumbuh dengan kelembutan dan dimanja oleh orang tuanya akan tertriger ketika berhadapan dengan orang-orang yang terbiasa menggunakan toxic word saat berkomunikasi.
Toxic word ini merupakan ungkapan-ungkapan yang memiliki makna negatif dan mengandung hinaan, kritik, maupun sindiran.
Seperti kalimat “Kamu nggak bisa apa-apa”, “dasar pemalas”, “Lihat anak itu lebih hebat dari kamu” dan kata-kata kasar yang lain.
Mengapa Toxic Word Berbahaya?
Toxic word tentu berbahaya bagi perkembangan psikologis anak dari namanya saja sudah jelas toxic memiliki arti racun.
Jika orang tua selalu menggunakan toxic word saat berkomunikasi dengan anak, maka tanpa sadar kalimat-kalimat ini akan mendoktrin anak dan membuat mereka percaya bahwa apa yang dikatakan orang tua terhadap dirinya memang benar.
Misalkan orang tua yang kerap memarahi anaknya dengan menyebut “dasar anak pemalas” atau “dasar anak durhaka” maka anak-anak tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik tapi justru membuat anak-anak meyakini bahwa benar mereka pemalas dan nakal.
Sehingga akibatnya adalah perilaku mereka yang cenderung mengarah ke hal yang negatif.
Seperti sering membangkang kepada orang tua atau guru, menjahili temannya secara berlebihan dan parahnya ketika mereka mulai berani melakukan hal yang melanggar norma.
Toxic word sejatinya akan mengikis jati diri anak yang terbiasa terus menerus mendengar kalimat negatif sehingaa merusak kepercayaan diri.
Mereka tidak akan pernah merasa cukup baik dan takut mecoba hal baru karena takut gagal dan dikritik lagi dengan kalimat-kalimat yang kasar.
Pada dasarnya orang tualah yang memegang peran penting untuk membentuk karakter anak.
Orang tua harus belajar untuk melakukan komunikasi yang sehat dengan anak melalui bahasa yang baik dan sopan.
Orang tua juga perlu menghargai anak agar anak juga bisa belajar menghargai orang lain.
toxic word adalah ancaman nyata bagi generasi strawberry yang membutuhkan lebih banyak dukungan emosional dan empati.
Pola asuh yang penuh cinta, pengertian, dan kata-kata positif dapat menjadi kunci untuk melindungi anak dari kerentanan emosional sekaligus membantu mereka berkembang menjadi individu yang tangguh dan percaya diri. (kid)
Editor : Nur Wachid