Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Rhenald Kasali Beber Fakta Mental Generasi Strawberry, Selalu Menghindari Ketakutan, Ketahui Pola Asuh yang Benar

Nur Wachid • Sabtu, 30 November 2024 | 16:31 WIB

Rhenald Kasali soal bahaya generasi strawberry, salah satunya anak memiliki mental tidak mau mengakui kesalahan.
Rhenald Kasali soal bahaya generasi strawberry, salah satunya anak memiliki mental tidak mau mengakui kesalahan.

Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena Generasi strawberry sebagai pemilik stigma mental yang rapuh selalu menjadi pembicaraan masyarakat.

Bahkan fenomena generasi strawberry ini juga menarik perhatian guru besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia Prof. Rhenald Kasali.

Di media sosial pribadinya, Rhenald Kasali kerap membuat konten untuk membagikan pendapatnya mengenai generasi strawberry.

Rhenald mengatakan bahwa salah satu faktor munculnya generasi strawberry berawal dari pola asuh strawberry parent, yakni pola asuh yang melindungi dan memanjakan anak secara berlebihan.

Orang tua yang menerapkan pola asuh ini biasanya selalu ingin melindungi anak dari ketakutan dan kesulitan atau lebih akrab kita kenal sebagai pola asuh overprotektif.

Orang tua biasanya memiliki kekhawatiran yang berlebihan terhadap resiko dan bahaya yang akan dihadapi anaknya.

Sehingga para orang tua selalu berupaya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak-anak agar mereka terhindar dari kesulitan.

Meskipun pola asuh ini memiliki niat yang baik, namun pendekatan ini justru memberikan dampak yang kurang baik bagi perkembangan karakter anak.

Anak yang dididik untuk selalu menghindari ketakutan dan kesulitan cenderung memiliki mental lemah dan rentan terhadap tekanan.

Mereka akan selalu mengkhawatirkan kemungkinan buruk terjadi dan perasaan takut gagal malah semakin besar.

Baca Juga: Gebrakan Baru Menko Kumham Yusril: Kumpulkan Data WNI yang Dipenjara di Luar Negeri

Selain itu, karena selalu merasa dilindungi orang tuanya mereka kesulitan menerima kritik dan kehilangan kemampuan untuk mengelola emosi yang akan berdampak pada menurunnya produktivitas dan kualitas hidup.

Karena alih-alih belajar untuk menghadapi ketakutan dan tantangan, anak justru diajarkan untuk menghindarinya.

Sifat overprotektif ini biasanya muncul karena dari orang tua yang menyesali kegagalanya dimasa lalu dan berharap hal itu tidak terjadi kepada anaknya.

Rasa bersalah dan penyesalan itulah yang akhirnya melahirkan perasaan cemas dan overprotektif terhadap anak.

Padahal anak juga butuh merasakan pengalaman gagal dan menghadapi tantangan agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tahan banting.

Perasaan-perasaan takut tersebut akan membentuk keberanian dan kemandirian anak.

Dengan memberikan kebebasan anak untuk mencoba hal baru, mengajak anak berdiskusi dalam memutuskan perkara dan membimbing anak saat mereka membutuhkan saran atas permasalahannya sudah cukup untuk membangun mental tangguh anak.

Generasi strawberry bukanlah generasi yang sepenuhnya lemah, mereka hanya perlu mendapatkan bimbingan yang tepat untuk belajar menghadapi tantangan hidup.

Dengan mengajarkan mereka untuk berani dan mandiri generasi strawberry bisa tumbuh menjadi individu yang kuat dan memiliki kepercayaan diri. (balqis-mg-iain/kid)

Editor : Nur Wachid
#Apa Itu #generasi strawberry #parenting #tips #mental #solusi #rhenald kasali #fakta #pola asuh