Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena generasi strawberry muncul akibat adanya strawberry parenting, yakni pola asuh berlebihan yang memanjakan dan melindungi anak.
Salah satu video Rhenald Kasali yang membahas mengenai strawberry parenting menjelaskan ada 13 tips yang harus dihindari orang tua jika tidak mau anak memiliki mental generasi strawberry.
Salah satu hal penting yang harus dihindari orang tua adalah pola asuh victim mentality.
Apa Itu Victim Mentality?
Victim mentality artinya adalah pola pikir seseorang yang merasa dirinya korban dalam berbagai situasi.
Orang dengan mentalitas ini biasanya akan menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi saat menghadapi kegagalan atau masalah yang menimpa dirinya.
Victim mentality terjadi ketika orang tua secara tidak sadar menanamkan pemahaman kepada anak bahwa saat mereka gagal atau dalam masalah itu bukanlah salah mereka, namun salah orang lain atau keadaan yang membuat mereka berada di kondisi tersebut.
Victim mentality biasanya terjadi kepada anak yang memiliki orang tua protektif, selalu membela anak dan tidak mengajarkan anak untuk mengakui kesalahan/kegagalan, dan tidak memberikan tanggung jawab kepada anak.
Dampak Victim Mentality bagi Generasi Strawberry
Orang tua yang mengasuh anaknya dengan victim mentality biasanya tidak mengajarkan anak bagaimana caranya menghadapi kesulitan.
Baca Juga: Taman Pintar Yogyakarta: Daya Tarik, Fasilitas, Harga Tiket Masuk, Jam Operasional, dan Rute
Akibatnya, anak-anak akan memiliki mental mudah menyerah saat menghadapi kondisi yang sulit dan lebih menyalahkan keadaan atau orang lain dari pada berfikir untuk mencari solusi dan intropeksi diri.
Selain itu, anak-anak juga tidak memiliki rasa tanggung jawab atas tindakannya, mereka akan sulit menerima konsekuensi atas perbuatannya dan menyalahkan faktor eksternal.
Akibat yang lain adalah mereka tidak mampu mengelola emosi dengan baik karena tidak terbiasa dengan kegagalan dan penolakan, sehingga generasi ini mudah merasa stres dan cemas.
Solusi untuk Mengatasi Dampak Victim Mentality
Untuk memperbaiki karakter anak yang memiliki victim mentality, hal pertama yang perlu diubah adalah pola asuh orang tuanya.
Orang tua bisa mengajarkan tanggung jawab, disiplin dan punishment (hukuman) yang bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengerjakan tugas sekolah sendiri atau membereskan mainan sendiri.
Hal ini akan membantu anak untuk belajar tanggung jawab dan memahami sebab-akibat.
Orang tua juga harus tega memberikan kesempatan anak untuk menghadapi kesulitan dan tantangan.
Dengan belajar menghadapi tantangan anak-anak akan belajar ketangguhan dan kecerdasan sosial, seperti bagaimana menyelesaikan konflik, pengelolaan emosi, dan toleransi.
Pola asuh victim mentality memiliki dampak negatif terhadap mentalitas generasi strawberry, membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan kehidupan.
Namun, dengan perubahan pendekatan dalam pola asuh, generasi ini dapat diarahkan menjadi individu yang lebih tangguh, mandiri, dan siap menghadapi dunia.
Orang tua, guru, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mendukung pertumbuhan generasi muda yang tidak hanya manis dan menarik di luar, tetapi juga kuat dan kokoh di dalam. (balqis-mg-iain/kid)
Editor : Nur Wachid