Jawa Pos Radar Lawu - Pembahasan mengenai generasi strawberry terus menjadi topik pembicaraan hangat di tengah masyarakat.
Bahkan fenomena generasi strawberry ini juga menarik perhatian profesor dan guru besar Universitas Indonesia.
Rhenald Kasali seorang guru besar bidang ilmu manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dalam bukunya berjudul Strawberry Generation menjelaskan bahwa generasi strawberry adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.
Setelah mempelajari fenomena ini Rhenald mengatakan setidaknya ada 4 faktor yang mempengaruhi munculnya fenomena generasi strawberry.
Self Diagnosis Dini Tanpa Melibatkan Pihak Ahli
Dengan kekuatan arus teknologi informasi yang kian pesat dan tidak terbendung, membuat generasi muda sekarang terlalu banyak menyerap informasi layaknya spons yang menyerap air.
Melalui konten-konten pendek di media sosial, mereka terpapar informasi-informasi yang belum sepenuhnya benar.
Kemudian mereka mencoba mencari kecocokan mengenai kondisi yang sedang mereka hadapi dengan informasi yang mereka dapatkan dari media sosial.
Sehingga seolah-olah mereka sudah menemukan jawaban atas kondisi yang sedang mereka alami dengan hanya mengamati sosial media saja. Hal seperti inilah yang disebut dengan self diagnosis.
Contoh sederhananya adalah ketika kita merasakan keluhan pada anggota tubuh kita, kemudian bukannya kita berkonsultasi kepada dokter tapi kita malah mencari solusinya di internet.
Pola Asuh Orang Tua yang Lebih Sejahtera dalam Membesarkan Anak Dibandingkan Sebelum Generasi Strawberry
Dalam fenomena generasi Strawberry, orang tua cenderung memberikan apa yang diminta oleh anak-anaknya dengan mudah.
Secara berlebihan mereka memberikan perlindungan dan memanjakan anaknya, pola asuh seperti inilah yang kemudian disebut dengan strawberry parenting.
Dengan menggunakan alasan sibuk kerja mereka memberikan kompensasi waktu dengan memberikan uang atau fasilitas-fasilitas kemudahan bagi anaknya. Padahal perhatian orang tua tidak bisa digantikan dengan harta dan materi.
Selain itu, kesalahan lain dari pola asuh ini adalah kerap memanjakan anak-anaknya, istilah ini biasanya disebut dengan setting unrealistic expectation.
Orang tua yang memanjakan anaknya terlalu berlebihan ketika memuji anaknya, sehingga anak tidak mengenal kritik.
Padahal dalam kenyataannya, anak-anak ini kelak akan menghadapi situasi besar yang sulit daripada lingkungan nyaman rumahnya.
Sehingga saat dewasa nanti, anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh ini akan lebih mudah merasa kecewa dan tersinggung.
Narasi-narasi Orang Tua yang Kurang Berpengetahuan
Orang tua modern kerap mengatakan anaknya moody (mudah berubah-ubah mood). Hal ini berdampak setelah anak-anak dewasa mereka akan menyebut dirinya seperti moody karena percaya pada label tersebut.
Narasi-narasi seperti ini akan dinormalisasikan dan dianggap wajar oleh anak-anak, padahal sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang baik.
Banyak generasi masa kini yang lebih mudah untuk lari dari kesulitan. Anak-anak yang terbiasa dengan pola asuh orang tua yang memanjakan dan memberikan perlindungan membuat mereka lebih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Hal ini dikarenakan mereka tidak terbiasa berada di kondisi yang sulit dan menantang apalagi penuh tekanan.
Mereka cenderung gampang mendapat gangguan cemas dan mudah terserang depresi.
Rhenald Kasali memberikan solusi untuk mengatasi generasi strawberry dengan cara orang tua harus memberikan ruang pada anak anak untuk berani menyelesaikan masalahnya sendiri.
Jangan melulu memanjakan anak dan melindungi anak dari kegagalan dan kekecewaan.
Anak butuh belajar bertanggung jawab terhadap pilihan dan mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah, jangan biarkan mereka menjadi generasi strawberry. (balqis-mg-iain/kid)