Jawa Pos Radar Lawu - Kasus dugaan kekerasan yang menyeret nama Cherry Lai, Co-owner Brandoville Studios, dan melibatkan karyawan bernama Christa Sydney kini semakin memanas.
Hari ini (13/9/2024), Ryan Adriandhy melalui akun Twitter X mengungkapkan bahwa laporan resmi terkait kasus ini telah diajukan ke kepolisian.
Namun hingga saat ini, belum diketahui di kepolisian resor mana laporan tersebut dilayangkan.
Ryan Adriandhy menulis dalam unggahannya, “Update kasus kekerasan terhadap Christa Sydney oleh Cherry Lai dan Brandoville Studios sudah dilaporkan ke kepolisian, namun masih belum ada respon.”
Selain itu, ia juga menyebut bahwa Cherry Lai diduga telah meninggalkan Indonesia dan berada di luar negeri.
Komunitas-komunitas lokal kini bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk mendalami kasus ini dan mencari keadilan bagi para korban.
Buntut Viral Kasus Dugaan Kekerasan Christa Sydney
Kasus ini mencuat ke publik setelah Christa Sydney, mantan karyawan Brandoville Studios, mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban kekerasan fisik dan verbal selama bekerja di bawah Cherry Lai.
Christa menceritakan beberapa bentuk kekerasan yang dialaminya, termasuk manipulasi, pemotongan gaji, serta hukuman fisik.
Salah satu laporan yang paling mengejutkan ketika Christa dipaksa menampar dirinya sendiri sebanyak 100 kali dan harus mengirimkan rekaman bukti kepada Cherry Lai sebagai bagian dari hukuman.
Viralnya kasus ini mengundang simpati dan kemarahan publik, terutama di media sosial.
Banyak mantan karyawan Brandoville Studios lainnya juga mulai angkat bicara mengenai dugaan pelecehan yang mereka alami selama bekerja di bawah Cherry Lai.
Mereka membeberkan pola kerja yang tidak manusiawi dan tekanan berlebihan yang kerap diterapkan di studio tersebut.
Dampak Terhadap Brandoville Studios
Brandoville Studios, yang sebelumnya dikenal sebagai studio yang terlibat dalam berbagai proyek besar seperti Final Fantasy VII Remake dan The Last of Us Part 1, kini harus menghadapi citra buruk di mata publik akibat kasus ini.
Studio yang pernah menjadi kebanggaan industri kreatif di Asia Tenggara kini berada dalam sorotan negatif setelah laporan-laporan tentang kondisi kerja yang tidak sehat mencuat.
Ryan Adriandhy juga mengungkapkan bahwa meski Brandoville Studios telah ditutup, para pemimpin studio tersebut, termasuk Cherry Lai dan suaminya, Ken Lai, diduga telah membuka studio baru bernama Lailai Studios.
Hal ini semakin memicu kemarahan publik karena mereka menduga bahwa kasus-kasus kekerasan ini belum selesai, dan para pelaku masih dapat melanjutkan operasi bisnis di tempat baru. (kid)