Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Buruan Beli sebelum Punah! Inilah Jajanan Tradisional Khas Cirebon yang Pernah Mewarnai Kenangan Masa Silam

Riski Asari • Rabu, 10 Desember 2025 | 17:43 WIB
Kue Gonjing
Kue Gonjing

Jawa Pos Radar Lawu - Cirebon dikenal sebagai kota pesisir dengan kekayaan budaya yang luar biasa, mulai dari sejarah keraton, batik megamendung, hingga kuliner khasnya yang memikat.

Di tengah menjamurnya makanan modern dan tren kuliner kekinian, ada jajanan tradisional Cirebon yang kini keberadaannya kian memudar.

Bahkan beberapa sudah benar-benar hilang dari pasar dan ingatan masyarakat.

Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon (2018), banyak makanan tradisional tak lagi diproduksi karena hilangnya regenerasi pembuat dan menurunnya permintaan.

Temuan ini diperkuat oleh Inventarisasi Kuliner Tradisional Balai Bahasa Jawa Barat (2020) yang menyebut modernisasi serta perubahan gaya hidup sebagai penyebab utama terpinggirkannya kuliner warisan masa lalu.

Sebagai bentuk dokumentasi dan upaya menjaga memori kuliner daerah, berikut jajanan tradisional khas Cirebon yang kini masuk kategori punah atau hampir punah.

1. Kue Gonjing — Manis Lembut yang Kini Tinggal Kenangan

Kue Gonjing dulu menjadi salah satu jajanan rakyat paling populer di pasar tradisional.

Teksturnya empuk dan rasanya manis gurih, dibuat dari tepung beras, kelapa parut, serta gula merah. Gonjing biasanya hadir dalam acara-acara kampung sebagai suguhan yang sederhana namun disukai banyak orang.

Kini, keberadaan kue ini nyaris tak terdengar. Bahkan di beberapa pasar besar Cirebon, pedagang tak lagi mengenali namanya. Dokumentasi kuliner Disbudpar Kota Cirebon (2018) mencatat kue ini sebagai bagian penting dari jejak kuliner lokal yang patut diingat dan dilestarikan.

2. Kicak Cirebon — Takjil Ramadan yang Mulai Terlupakan

Berbeda dengan kicak dari Yogyakarta yang berbahan tape, Kicak Cirebon dibuat dari ketan kukus, kelapa parut, dan siraman gula kelapa cair. Rasanya lembut dan manis, sehingga dulu menjadi hidangan favorit saat bulan Ramadan.

Namun popularitasnya merosot drastis. Kehadiran jajanan modern dan tren kuliner viral membuat kicak semakin jarang diproduksi. Inventarisasi Kuliner Tradisional Cirebon (Balai Bahasa Jabar, 2020) menyebut makanan ini kini termasuk jajanan yang sulit ditemukan.

3. Bolu Kering Tebu — Camilan Klasik dari Masa Perkebunan

Bolu kering tebu berasal dari kawasan perkebunan tebu dan dibuat menggunakan air tebu sebagai pemanis alami. Aromanya harum dan rasanya manis ringan, menjadikannya camilan favorit masyarakat desa pada masa kolonial.

Namun seiring menurunnya produksi tebu dan minimnya UMKM yang mempertahankan resepnya, bolu kering tebu perlahan menghilang. Arsip Komunitas Heritage Cirebon (2021) mencatat keberadaannya sebagai bagian dari jejak sejarah kuliner yang mulai terlupakan.

Pelestarian Kuliner Adalah Pelestarian Identitas Lokal

Jika tidak didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi muda, jajanan tradisional Cirebon dapat benar-benar lenyap dari budaya masyarakat. Upaya pelestarian bisa dimulai dari menelusuri resep lama keluarga, mendorong UMKM berbasis kuliner tradisional, hingga mempromosikannya melalui platform digital.

Dengan langkah-langkah sederhana tersebut, warisan kuliner Cirebon masih dapat hidup dan dinikmati kembali oleh generasi mendatang. (fin)

 

 

Editor : AA Arsyadani
#cirebon #kuliner cirebon #wisata cirebon