Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Tradisi Kuliner Para Santri, Cita Rasa Kesederhanaan! Menyelami Kuliner Santri di Hari Santri Nasional

Nur Wachid • Kamis, 23 Oktober 2025 | 01:30 WIB

Tradisi Makan Bersama Santri
Tradisi Makan Bersama Santri

Jawa Pos Radar Lawu - Tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional, hari yang mengenang perjuangan kaum sarungan dalam membela agama dan bangsa.

Di berbagai daerah, perayaan ini tidak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan seperti kirab, pembacaan shalawat, dan doa bersama, tetapi juga dengan sajian kuliner khas pesantren yang menggambarkan kehidupan santri yang sederhana, penuh kebersamaan, dan sarat nilai spiritual.

Bagi banyak orang, makanan para santri bukan sekadar pengisi perut, melainkan simbol filosofi hidup: sederhana tapi bermakna, sedikit tapi berkah.

Mari kita telusuri beragam kuliner yang selalu hadir menyemarakkan suasana Hari Santri Nasional di berbagai penjuru Indonesia.

1. Nasi Kholil – Hidangan Simbol Kesyukuran

Di banyak pesantren, terutama di Jawa Timur, Nasi Kholil menjadi menu utama ketika memperingati Hari Santri. Nama “Kholil” diambil dari ulama besar Madura, KH. Kholil Bangkalan, sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang menginspirasi lahirnya pesantren modern.

Nasi ini disajikan dengan lauk sederhana seperti sambal terasi, sayur lodeh, telur rebus, dan tempe bacem. Kadang disertai kerupuk dan serundeng kelapa.
Keistimewaannya bukan pada rasa yang mewah, tetapi pada cara penyajiannya yang beramai-ramai di daun pisang panjang melambangkan kebersamaan dan kerendahan hati para santri.

Bagi mereka, makan bersama bukan hanya aktivitas jasmani, tapi juga latihan spiritual untuk menumbuhkan rasa syukur dan saling menghormati.

2. Pecel Santri – Kesederhanaan dalam Setiap Suapan

Pecel menjadi kuliner wajib di hampir semua kota santri seperti Kediri, Madiun, dan Ponorogo. Di lingkungan pesantren, makanan ini sering disebut “Pecel Santri” karena kesederhanaannya.

Isinya terdiri dari sayuran rebus seperti kangkung, kacang panjang, dan tauge yang disiram sambal kacang lembut, ditambah peyek kacang sebagai pelengkap.

Yang menarik, banyak dapur pesantren menyiapkan pecel ini untuk ribuan santri sekaligus pada Hari Santri, disajikan dalam baki besar agar bisa disantap bersama-sama.

Filosofinya jelas: kebersamaan lebih nikmat daripada kelezatan yang mahal. Bahkan tanpa daging atau lauk mewah, rasa syukur membuat setiap suapan terasa nikmat.

3. Soto Pesantren dan Lontong Kikil – Hangatnya Tradisi di Jombang

Kota Jombang, yang dikenal sebagai “Kota Santri”, memiliki dua hidangan yang sering hadir saat peringatan Hari Santri: Soto Pesantren dan Lontong Kikil.

Soto Pesantren biasanya berkuah bening, tanpa daging, hanya diisi bihun, tauge, telur rebus, dan bawang goreng. Rasa gurihnya berasal dari kaldu sayur dan rempah-rempah alami.

Sedangkan Lontong Kikil, yang biasa disajikan oleh masyarakat sekitar Pesantren Tebuireng, memiliki kuah santan ringan dengan potongan kikil sapi yang empuk.

Kedua makanan ini melambangkan kebersahajaan hidup santri mengajarkan bahwa cita rasa bisa lahir dari bahan sederhana bila diolah dengan ketulusan.

4. Wedang Jahe dan Teh Kiai – Teman Setia di Malam Peringatan

Malam Hari Santri biasanya diisi dengan doa, pengajian, dan shalawat hingga larut. Di sela kegiatan itu, minuman hangat seperti wedang jahe dan teh kiai menjadi teman akrab para santri.

Wedang jahe dibuat dari jahe bakar, serai, dan sedikit gula merah. Aromanya menenangkan, cocok untuk menghangatkan tubuh di udara malam.

Sementara “Teh Kiai” merupakan istilah khas pesantren untuk teh tubruk kental tanpa gula. Disajikan dalam gelas kecil, teh ini diminum bersama kiai atau guru sebagai bentuk penghormatan.

Minuman ini bukan sekadar penghangat, tapi simbol keakraban dan penghormatan antara santri dan guru.

5. Jenang, Apem, dan Ketan – Simbol Doa dan Persaudaraan

Tak hanya makanan berat, jajanan tradisional seperti jenang, apem, dan ketan juga selalu hadir dalam peringatan Hari Santri.

Jenang terbuat dari tepung beras dan santan yang dimasak lama hingga kental, melambangkan kesabaran dalam menuntut ilmu.

Apem, dari kata “afwan” (maaf dalam bahasa Arab), menjadi simbol permohonan ampun dan pembersihan diri.

Sementara ketan, dari kata “kita nempel”, menggambarkan eratnya persaudaraan antar-santri dan jamaah pesantren.

Di banyak tempat, jajanan ini dibagikan kepada warga sekitar pesantren sebagai bentuk sedekah dan wujud kebersamaan antara santri dan masyarakat.

6. Bubur Suro dan Tumpeng Santri

Beberapa pesantren juga memiliki tradisi khusus menyajikan Bubur Suro atau Tumpeng Santri saat Hari Santri.

Bubur Suro dibuat dari beras, santan, dan rempah, dihias tujuh macam lauk seperti abon, serundeng, telur, dan sambal. Angka tujuh dipercaya melambangkan tujuh lapisan doa yang dipanjatkan oleh para santri.

Sedangkan Tumpeng Santri berisi nasi kuning atau putih dengan lauk sederhana: telur rebus, tempe, tahu, dan sambal. Saat dibagikan, bagian puncak tumpeng biasanya diberikan kepada kiai atau pengasuh pondok, bentuk rasa hormat kepada guru.

Makna Filosofis di Balik Kuliner Hari Santri

Makanan di pesantren lahir dari keterbatasan dan kebersamaan, bukan kemewahan. Namun justru dari sanalah muncul nilai-nilai luhur:

-Kesederhanaan, karena yang sedikit bisa menjadi cukup.

-Kebersamaan, karena semua dimakan tanpa sekat status.

-Keberkahan, karena makanan diolah dan dibagikan dengan niat ikhlas.

Setiap butir nasi dan suapan pecel menjadi simbol perjuangan kaum santri yang hidup sederhana, tapi berjiwa besar. Di balik dapur-dapur pesantren, tersimpan kisah tentang ketekunan, doa, dan cinta pada ilmu.(galuh-mg-pnm/kid)

Editor : Nur Wachid
#hari santri nasional #Nasi Kholil #ketan #Bubur Suro dan Tumpeng Santri #apem #Pecel Santri #22 oktober #kuliner santri #Jenang #Soto Pesantren dan Lontong Kikil #Wedang Jahe dan Teh Kiai