Jawa Pos Radar Lawu-Malang bukan hanya terkenal dengan destinasi wisata alamnya, tetapi juga menjadi salah satu kota kuliner terbaik di Jawa Timur.
Udara dingin dan suasana yang ramah membuat pengalaman makan di kota ini terasa berbeda. Berikut adalah delapan kuliner khas Malang dengan penjelasan lebih lengkap agar Anda tidak salah pilih saat berkunjung.
1. Bakso Malang
Bakso adalah ikon kuliner Malang yang sudah mendunia. Ciri khasnya terletak pada isiannya yang beragam: mulai dari bakso daging sapi kenyal, tahu isi, siomay rebus, siomay goreng, hingga pangsit renyah. Kuah kaldunya bening, gurih, dan aromanya khas karena dimasak dari tulang sapi yang direbus lama.
Sensasi menyantap bakso Malang semakin nikmat ketika ditambah sambal, saus tomat, kecap manis, serta taburan bawang goreng.
Salah satu tempat paling terkenal adalah Bakso President, yang berdiri sejak 1977. Uniknya, tempat ini berada persis di samping rel kereta api, sehingga Anda bisa menikmati bakso sambil merasakan sensasi getaran kereta yang lewat.
2. Rawon Nguling
Rawon adalah sup daging sapi dengan kuah berwarna hitam pekat yang berasal dari bumbu kluwek. Rawon khas Malang terkenal dengan kuahnya yang gurih kaya rempah, berpadu dengan potongan daging sapi yang empuk. Biasanya disajikan bersama nasi putih, tauge pendek, sambal, jeruk nipis, serta taburan bawang goreng.
Warung Rawon Nguling, yang sudah berdiri sejak 1940-an, menjadi tempat legendaris untuk mencoba rawon di Malang.
Porsinya besar, dagingnya melimpah, dan cita rasanya konsisten hingga sekarang. Makan rawon di sini sangat cocok untuk sarapan sebelum berwisata, karena porsinya mengenyangkan.
3. Nasi Pecel Kawi
Nasi pecel adalah kuliner tradisional berupa nasi hangat yang disajikan dengan aneka sayuran rebus, lalu disiram sambal kacang.
Di Malang, pecel memiliki bumbu kacang yang lebih gurih dan sedikit pedas, biasanya disajikan dengan tambahan tempe goreng, telur dadar, peyek kacang, hingga rempeyek udang.
Salah satu yang legendaris adalah Pecel Kawi Hj. Musilah, yang sudah buka sejak 1975 di Jalan Kawi Atas. Tempat ini hampir selalu ramai terutama pagi hari, karena pecel di Malang juga populer sebagai menu sarapan. Rasanya sederhana, tapi bikin rindu.
4. Cwie Mie Malang
Bagi pecinta mie, Cwie Mie Malang adalah menu wajib. Sekilas mirip mie ayam, tetapi topping-nya berupa ayam cincang berbumbu gurih ringan, bukan potongan ayam manis seperti di mie ayam Jawa pada umumnya. Mie-nya tipis dan kenyal, disajikan dengan sawi hijau dan kuah kaldu hangat yang terpisah.
Keunikan lainnya adalah adanya taburan bawang goreng dan daun bawang yang membuat rasanya makin harum.
Kedai legendaris yang bisa dicoba adalah Depot Mie Gloria di kawasan Kayutangan. Suasana lawas dan cita rasa otentik membuatnya tetap ramai hingga kini.
5. Soto Geprak Mbah Djo
Soto ayam sudah biasa, tapi Soto Geprak Mbah Djo punya ciri khas tersendiri. Bumbunya diulek atau “digeprek” terlebih dahulu, sehingga rasa rempahnya lebih kuat dan meresap ke dalam kuah. Soto ini berisi ayam kampung suwir, tauge, tomat, seledri, dan bawang goreng, dengan kuah gurih bening yang segar.
Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1935, menjadikannya salah satu soto paling tua di Malang.
Suasananya sederhana, tapi cita rasanya membuat banyak orang kembali lagi. Makan soto panas di udara sejuk Malang benar-benar jadi pengalaman yang menyenangkan.
6. Angsle
Malang terkenal dengan udara dinginnya, terutama di malam hari. Di saat seperti itu, angsle adalah teman yang sempurna.
Angsle adalah minuman tradisional berkuah jahe hangat yang berisi kacang hijau, mutiara, ketan putih, kacang tanah sangrai, roti tawar, dan kadang ditambah petulo (sejenis putu mayang).
Rasanya manis, hangat, dan mengenyangkan. Biasanya dijual di malam hari, terutama di kawasan Alun-Alun Malang, Jalan Semeru, dan sekitar Kayutangan.
Angsle sering dijadikan menu penutup setelah menyantap bakso atau rawon, karena bisa menghangatkan tubuh sebelum pulang.
7. Tahu Lontong Lonceng
Kuliner legendaris satu ini sudah ada sejak tahun 1935. Satu porsinya terdiri dari lontong lembut, tahu goreng, tauge, kemudian disiram bumbu kacang manis pedas yang ringan. Sekilas mirip gado-gado, tapi lebih sederhana dan khas Malang.
Disebut “Tahu Lontong Lonceng” karena lokasinya berada di dekat bioskop Lonceng yang populer pada masa lalu, di Jalan Laksamana Martadinata.
Hingga sekarang, warung ini tetap bertahan dengan rasa yang tidak berubah, menjadi kuliner nostalgia bagi banyak warga Malang maupun wisatawan.
8. Orem-Orem Malang
Orem-orem adalah kuliner khas Malang yang cukup jarang ditemui di luar kota ini. Hidangan ini berupa potongan ketupat yang disiram kuah santan ringan, dilengkapi ayam suwir, tempe goreng, dan tauge. Rasanya gurih, sedikit manis, dan tidak terlalu berat.
Biasanya disajikan dengan sambal agar lebih segar, serta kerupuk sebagai pelengkap. Orem-orem paling enak disantap saat pagi atau siang hari, dan salah satu tempat terkenal untuk menikmatinya adalah Orem-Orem Arema. Banyak wisatawan yang penasaran karena kuliner ini benar-benar khas Malang.(galuh-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid