Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Historiografi Hotel Merdeka Kota Madiun: Jepang Menyerah ke Sekutu 1945, Berganti Nama Hotel Merdeka hingga Kini (Bagian 3-Habis)

Nur Wachid • Kamis, 1 Februari 2024 | 20:35 WIB
HISTORIOGRAFI: Hotel Merdeka, Kota Madiun memiliki sejarah panjang sejak masa pemerintah kolonial Belanda. (ISTIMEWA)
HISTORIOGRAFI: Hotel Merdeka, Kota Madiun memiliki sejarah panjang sejak masa pemerintah kolonial Belanda. (ISTIMEWA)

Hotel Madioen, cikal bakal Hotel Merdeka, Kota Madiun mulai meredup di tangan William Ruitenschild. Hotel Madioen akhirnya berganti kepemilikan dan dijual ke Frans William van Bereisteijn, Sekretaris Hulp en Landbouw Crediet Bank Madioen (kini Bank Rakyat Indonesia, Red) pada 1905 silam. Historiografi Hotel Merdeka Kota Madiun bagian ketiga ini mengulas perkembangan Hotel Madioen di bawah kendali Beresiteijn hingga berganti nama Hotel Merdeka seperti sekarang.


Jawa Pos Radar Lawu – Hotel Madioen tidak berubah nama meskipun pemiliknya berganti ke tangan Beresiteijn. Hotel Madioen yang sempat meredup sebelumnya, akhirnya mampu bangkit dan berkembang. Roda bisnis kembali berputar seiring tata kelola apik yang dijalankan Beresiteijn.

Lima tahun berselang, tepatnya sekitar 1910 silam, Hotel Madioen berubah nama menjadi Hotel Beresiteijn. Saat itu, masa di mana mulai muncul pesain bisnis hotel lainnya di Kota Madiun.

Bahkan persaingan mulai ketat ditandai dengan berdirinya Hotel Soesmas dan Hotel Le Residence di Madioen.

‘’Cukup lama Beresteijn mengendalikan bisnis hotelnya,’’ ujar Wardianto yang telah melakukan kajian pustaka tentang sejarah Hotel Merdeka selama dua tahun.

Beresteijn mampu bertahan dan mengurus bisnis hotel selama 25 tahun lebih. Beresteijn kemudian wafat di usianya ke 62 tahun, tepatnya 23 Februari 1932.

Si ahli waris kemudian menjual aset Hotel Beresteijn kepada seorang pengusaha ternama, A. Van Dijk.

Dari situlah kemudian nama Hotel Beresteijn diubah menjadi Grand Hotel van Dijk yang diresmikan 23 November 1932 oleh Wali Kota Madiun, Lieuwe van Dijk.

‘’Interior khasnya dirubah total,’’ ujar Anto, sapaan akrabnya.

Di tangan A. Van Dijk, interior hotel didesain dengan warna Tionghoa. Sejalan dengan peran Kapiten China di Madioen yang kuat dipengaruhi penguasa perdagangan di Karesidenan Madiun. Yakni Njoo Swie Lian, Ong Swan Nio, Njoo Hong See.

 

Seiring berjalannya waktu, Grand Hotel van Dijk berganti nama menjadi Hotel Yamato di bawah kekuasan Jepang pada 1942 silam. Tepatnya ketika Belanda meninggalkan Indonesia.

‘’Hotel Yamato hanya bertahan tiga tahun,’’ bebernya.

Ketika Jepang menyerah pada sekutu 1945 silam, kepemilikan Hotel Yamato resmi dikuasai PT Honet. Sejak itulah nama hotel diganti menjadi Hotel Merdeka, hingga sekarang.

Dalam perjalannya, Hotel Merdeka sempat bergant-ganti kepemilikan. Pun perubahan fisik jauh berubah dari awalnya rumah kos hingga sekarang.

‘’Nama legenda Hotel Merdeka tetap terjaga sebagai hotel bersejarah meskipun era 1990-an sudah mulai banyak hotel didirikan,’’ ujarnya.

Anto menyatakan, sejarah panjang Hotel Merdeka, Kota Madiun patut dijadikan referensi dalam mengelola wisata sejarah di Kota Madiun. Keberadaan hotel juga menandai kesejahteraan masyarakat Kota Madiun pada zamannya.

Ditambah adanya berbagai hiburan seperti Bioskop Arjuna maupun Club House Constatia di Jalan dr. Soeteomo yang menjadi tempat kongkow kaum bangsawan pada masanya.

‘’Adanya berbagai hiburan itu melambangkan kemakmuran masyarakat Kota Madiun pada waktu itu,’’ ucapnya. (kid)

Editor : Nur Wachid
#merdeka #Beresteijn #Ruitenschild #kota madiun #hotel #Madioen