Rumah indekos R. Ruitenschild menjadi cikal bakal Hotel Merdeka, Kota Madiun. Dibangun sejak 1881 silam, rumah kos tersebut berkembang pesat. Hingga akhirnya berubah nama menjadi Hotel Madioen yang kelak akan berubah menjadi Hotel Merdeka. Historiografi Hotel Merdeka Kota Madiun bagian dua ini mengulas kemajuan dan waktu di mana Hotel Madioen sempat mengalami masa terseok-terseok.
Jawa Pos Radar Lawu - Hotel Merdeka Kota Madiun mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Cikal bakal Hotel Merdeka merupakan rumah kos milik R. Ruitenschild yang didirikan pada 1881 silam.
Indekos R. Ruitenschild itupun mulai dikenal banyak orang dan laris manis. Sembilan tahun berselang, tepatnya 1890 silam rumah indekos itu berganti nama menjadi Hotel Madioen.
Pada masanya, Hotel Madioen menjadi hotel berkelas sekaligus menjadi jujukan para tokoh pemerintah kolonial Belanda saat lawatan ke Kota Madiun. Hal itu diperkuat dari bukti potongan koran terbitan Belanda.
Dalam potongan koran itu menyebut Hotel Madioen sebagai hotel berkelas dengan fasilitasi perabot modern, kamar luas, cahaya lampunya gemerlap dan lokasinya tak jauh dari pusat pemerintah dan fasilitas umum seperti kantor pos dan stasiun.
Menurut Wardianto, Hotel Madioen menjadi rekomendasi tempat menginap bagi pelancong bangsa Eropa dan Asia. ‘’Bahkan tokoh terkenal juga menjadikan tempat itu untuk menginap,’’ ujar Anto, sapaan akrabya, yang telah melakukan kajian pustaka tentang Hotel Merdeka selama dua tahun.
Dikabarkan seorang Raja Siam Chulalongkorn yang melakukan ekspedisi ke Jawa 1896 silam sempat menginap beberapa hari di Hotel Madioen bersama sejumlah pengawal kerajaan.
Anto menilai hal itu menandai kejayaan bisnis di Kota Madiun. Namun pada 17 Januari 1900, R. Ruitenschild meninggal.
Bisnis sempat diteruskan Mevrouw Ruitenschild, istrinya selama empat tahun. Sebelum akhirnya menyusul meninggal. ‘’Pengelolaan hotel tidak seperti dulu lagi,’’ imbuhnya.
Pengelolaan Hotel Madioen dikendalikan oleh William Ruitenschild, anak pendiri usaha tersebut. Namun perjalanan bisnis Hotel Madioen tak semulus ketika dipegang ayahnya.
Hotel Madioen mulai terseok-seok dan menghadapi situasi sulit. Besarnya biaya operasional dan pendapatan yang tidak sesuai menjadi beban tersendiri bagi keberlangsungan usaha Hotel Madioen.
Hingga akhirya, Hotel Madioen dijual dan diambil alih kepemilikannya oleh Frans William van Bereisteijn, pejabat yang menduduki posisi Sekretaris Hulp en Landbouw Crediet Bank Madioen (kini Bank Rakyat Indonesia, Red) pada 1905 silam. ‘’Tapi tetap hotelnya,’’ ungkapnya. *** bersambung (kid)
Editor : Nur Wachid