Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Romantisme Keluarga Belanda di Sarangan: Petualangan Menemukan Waktu yang Hilang di Lereng Lawu (5-habis)

Loditya Fernandes • Kamis, 11 Januari 2024 | 14:05 WIB
Memoar Peter van Alting Geusau di Telaga Sarangan Magetan. (Habib/Radar Madiun)
Memoar Peter van Alting Geusau di Telaga Sarangan Magetan. (Habib/Radar Madiun)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Banyak hal dilakukan Peter van Alting Geusau selama di Sarangan. Apa yang dilakukan hampir seluruhnya kegiatan simbolis. Puncaknya ketika akhir perjalanan di Sarangan.

Seperti dilansir dari Javapost.nl, Peter membawa buah tangan untuk ibunya.

MENAWAN: Pemandangan Telaga Sarangan saat difoto dari atas. (JAVA.NL)
MENAWAN: Pemandangan Telaga Sarangan saat difoto dari atas. (JAVA.NL)

Souvenir

Peter van Alting Geusau tinggal di Sarangan sekitar lima hari. Beberapa ubin bekas Carpe-Diem di Sarangan dibawanya.

Ubin itu bakal dipasangkan ke Carpe-Diem miliknya sendiri di Tasmania. Rumah yang dibangun pada tahun 1976 di perbukitan Underwood, Australia yang tenang.

Peter juga menemukan engsel tua berkarat di sisa reruntuhan Carpe-Diem Sarangan. Engsel itu dibersihkan dan ditempatkan di pintu depan rumahnya. Terlihat indah, terlebih saat pintu itu dibuka dan ditutup.

Pada hari terakhirnya di Sarangan, Peter sempat mengisi dua lembar saputangan dengan tanah tempat Carpe-Diem di Sarangan berdiri.

Peter pun pergi ke Belanda. Satu saputangan berisi tanah itu disebarkan di atas makam Willem Henri Alting von Geusau ayahnya di Assen.

Sedangkan satu lainnya, diberikan kepada Lydia Clara Catharina Alting van Geusau. Kepadanya, Peter menceritakan apa yang telah terjadi di Sarangan setelah bertahun-tahun lamanya.

Tetes demi tetes air mata jatu di pipi ibunya yang sudah menua. Air mata itu menetes tepat di saputangan berisi tanah Sarangan tersebut.

Lydia tak ingin melepaskan saputangan itu. Peter merasakan, hati ibunya tertinggal di Sarangan sejak tahun 1939 lalu. (odi)

 

Editor : Nur Wachid
#van alting #magetan #sarangan #belanda