Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Tren Naik Gunung di Kalangan Anak Muda Indonesia: Gaya Hidup, Self Healing, hingga Pencarian Jati Diri

Mizan Ahsani • Jumat, 17 April 2026 | 15:30 WIB
Naik Gunung Jadi Gaya Hidup
Naik Gunung Jadi Gaya Hidup

Jawa Pos Radar Lawu - Naik gunung kini bukan lagi sekadar aktivitas ekstrem yang identik dengan para pencinta alam.

Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan hidup modern, mendaki gunung justru menjelma menjadi gaya hidup baru bagi anak muda Indonesia.

Kesibukan akademik, pekerjaan, hingga paparan media sosial yang intens membuat banyak orang mencari pelarian.

Jika nongkrong di kafe sudah menjadi hal biasa, maka mendaki gunung menawarkan pengalaman berbeda lebih menantang sekaligus menenangkan.

Fenomena seperti trekking, hiking, hingga camping kini semakin digemari.

Tidak hanya untuk menaklukkan ketinggian, aktivitas ini juga menjadi sarana mencari makna hidup, membangun citra diri, hingga “healing” dari rutinitas yang melelahkan.

Di balik unggahan foto matahari terbit di puncak atau siluet awan yang dramatis di media sosial, tersimpan cerita yang lebih dalam tentang pencarian jati diri, pelarian dari tekanan hidup, hingga keinginan terhubung kembali dengan alam.

Baca Juga: Esensi Kebersamaan di Jalur Pendakian Gunung Putri Lembang, Wisata Alam yang Sarat Makna

Alasan Anak Muda Ramai Mendaki Gunung

Self Healing di Alam Terbuka

Banyak anak muda memilih gunung sebagai tempat untuk menenangkan diri.

Udara segar, pemandangan hijau, dan suasana tenang memberikan efek relaksasi yang sulit ditemukan di perkotaan.

Mendaki menjadi cara efektif untuk mengurangi stres sekaligus memulihkan energi mental.

Eksistensi di Media Sosial

Media sosial turut berperan besar dalam meningkatnya tren ini. Pemandangan gunung yang indah menjadi latar sempurna untuk konten visual yang menarik.

Tak sedikit yang mengabadikan momen pendakian sebagai simbol gaya hidup aktif dan berani keluar dari zona nyaman.

Pencarian Jati Diri dan Komunitas

Mendaki gunung juga menawarkan ruang refleksi yang mendalam. Dalam perjalanan yang penuh tantangan, seseorang dihadapkan pada dirinya sendiri belajar tentang kesabaran, ketahanan, dan arti proses. Selain itu, aktivitas ini juga memperluas relasi melalui komunitas pendaki.

Gunung Favorit Anak Muda di Indonesia

Indonesia memiliki banyak gunung dengan pesona yang beragam. Beberapa di antaranya menjadi primadona di kalangan pendaki muda.

Gunung Ramah Pemula dan Instagramable

Gunung seperti Gunung Prau, Gunung Andong, Gunung Papandayan, Gunung Bromo, dan Gunung Ijen menjadi favorit karena jalurnya relatif mudah dan pemandangannya memukau.

Destinasi dengan Tantangan Lebih Serius

Bagi yang mencari tantangan lebih, gunung seperti Gunung Semeru, Gunung Rinjani, Gunung Gede, Gunung Merbabu, dan Gunung Slamet menjadi pilihan untuk menguji kemampuan fisik dan mental.

Baca Juga: Tips Mencegah Hipotermia Saat Mendaki Gunung: Persiapan Fisik, Mental, dan Perlengkapan Wajib

Dampak Positif bagi Diri dan Ekonomi Lokal

Mendaki gunung bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga proses panjang yang penuh tantangan.

Aktivitas ini melatih mental, meningkatkan ketahanan fisik, serta menjadi sarana detoks digital dari kehidupan yang serba cepat.

Selain itu, tren ini juga berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar. Kehadiran pendaki membuka peluang usaha seperti jasa ojek basecamp, porter, warung, penginapan, hingga penyewaan alat.

Hal ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi mikro di kawasan wisata alam.

Catatan Kritis: Jangan Sampai Alam Jadi Korban

Di balik popularitasnya, tren mendaki gunung juga menyisakan tantangan serius, terutama terkait kelestarian lingkungan.

Lonjakan jumlah pendaki sering kali diiringi dengan meningkatnya volume sampah dan kerusakan ekosistem.

Kesadaran untuk menjaga alam harus menjadi prioritas. Pendaki perlu memahami bahwa aktivitas ini bukan sekadar ajang eksistensi, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.

Tidak merusak flora dan fauna serta membawa turun kembali sampah adalah langkah sederhana yang berdampak besar.

Naik gunung kini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar aktivitas fisik.

Bagi banyak anak muda, ini adalah ruang untuk tumbuh, belajar, dan menemukan makna hidup.

Dari puncak gunung, tersimpan pelajaran berharga: hidup bukan tentang seberapa cepat mencapai tujuan, melainkan bagaimana menghargai setiap proses dan perjalanan.(*)

*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#Pendakian Gunung #Tren Naik Gunung di Kalangan Anak Muda #Pencarian Jati Diri #self healing #gaya hidup