Jawa Pos Radar Madiun - Mendaki dan camping di gunung bisa menjadi alternatif aktivitas seru selama libur tahun baru.
Bahkan tak sedikit yang berencana merayakan momen pergantian tahun di Gunung Lawu.
Alam yang indah, hawa sejuk, dan medan yang tak begitu sulit membuat Gunung Lawu banyak disukai para pendaki.
Namun demikian, para pendaki awam perlu memperhatikan banyak hal.
Setiap gunung memiliki karakteristik berbeda. Tantangan serta tingkat kesulitannya juga berbeda.
Fandi Ahmad Agi yang merupakan pendaki, pemandu gunung, pemanjat tebing, dan pelari gunung membagikan sejumlah kiat.
"Tantangan setiap mendaki gunung pasti akan berbeda-beda," kata Agi, dikutip dari ANTARA.
Walaupun gunungnya sama, namun waktu melakukan pendakian juga mempengaruhi rintangan yang dihadapi.
"Misalnya naik gunung di musim panas dan musim hujan itu berbeda," kata Agi, dikutip dari ANTARA.
Menurutnya, pemilihan waktu dalam mendaki gunung sangat penting untuk diperhatikan.
Supaya persiapan yang dilakukan dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Dia juga menyarankan untuk mempelajari tipikal dan kondisi gunung yang akan didaki, misalnya struktur tanah, cuaca, ketinggian, dan hal-hal penting lainnya.
Kebanyakan, gunung-gunung di Indonesia acap diguyur hujan. Pakaian dan perlengkapan menjadi mudah basah.
Oleh karena itu, penting untuk memilih waktu yang tepat saat mendaki gunung serta mempersiapkan kebutuhan saat melakukan pendakian.
Dia berpesan agar para pendaki siap menghadapi kondisi dan perubahan cuaca yang sangat mungkin terjadi saat berada di ketinggian, serta berhati-hati dengan kondisi jalan yang licin.
"Paling penting persiapkan fisik. Kadang-kadang banyak orang naik gunung tanpa ada persiapan fisik yang baik," terangnya.
"Gimana pun, mendaki gunung atau berkegiatan di alam bebas itu kegiatan fisik yang berat,” imbuh peraih peringkat 1 di Asia dalam kompetisi Ultra-Trail du Mont-Blanc itu.
Dengan persiapan fisik yang baik, pendaki dapat mengukur dan menikmati kegiatan pendakian dengan baik.
Tanpa persiapan fisik yang memadai, pendaki berisiko dapat mengalami cedera dan tentunya dapat mengganggu kenyamanan diri sendiri maupun orang lain.
"Kemudian, persiapan pengetahuan. Kita tahu peralatan apa saja yang harus dibawa kalau mendaki gunung, pelajari dulu karakter gunung, cuacanya," saran Agi.
Baginya, keterampilan dasar beraktivitas di alam, seperti membaca navigasi, mendirikan tenda, sangat penting.
Juga mengemas barang, melakukan pertolongan pertama, hingga keterampilan memasak, perlu dimiliki oleh seorang pendaki gunung.
Dengan begitu, seorang pendaki dapat melakukan aktivitas pendakian dengan lebih baik.
Namun, saat terjadi krisis bencana di atas gunung, seperti gunung meletus atau badai, Agi mengatakan bahwa hal terbaik yang harus dilakukan pendaki adalah langsung turun menuju bawah gunung.
Jangan menunggu di atas gunung dan segeralah turun ke bawah atau jauhi puncak gunung karena kondisi di atas jauh lebih berbahaya.
"Kita harus pelajari titik-titik evakuasinya, jika terjadi bencana ke mana kita harus berlari. Itu harus dilakukan dengan cepat," katanya.
Dia juga berpesan agar para pendaki tetap menjaga kelestarian lingkungan di gunung.
Seperti tidak meninggalkan sampah di lokasi pendakian, tidak memburu hewan, dan tidak mengambil apapun dari sana.
"Kalau saya selalu mengikuti kata-kata John Muir, yaitu take nothing but picture, kill nothing but time, dan leave nothing but footprint, Itu buat saya kepakai banget,” kata pendaki gunung yang sudah memiliki pengalaman selama 25 tahun itu. (antara/naz)
Editor : Mizan Ahsani