Jawa Pos Radar Lawu - Kebiasaan merokok kembali menjadi sorotan setelah penelitian terbaru mengungkap dampaknya yang tidak hanya merusak paru-paru, tetapi juga berpengaruh serius terhadap kesehatan otak.
Bahkan, risiko demensia disebut bisa meningkat hingga dua kali lipat akibat kebiasaan ini.
Temuan ini memperkuat bukti bahwa merokok berkaitan erat dengan penurunan fungsi kognitif di masa depan.
Para ahli kini menemukan mekanisme biologis baru yang menjelaskan hubungan tersebut.
Merokok Ganggu Hubungan Paru-Paru dan Otak
Penelitian yang dilaporkan oleh Daily Mail mengungkap adanya koneksi langsung antara paru-paru dan otak yang disebut sebagai lung-brain axis.
Jalur ini menjadi penghubung penting dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh.
Dalam penelitian tersebut, nikotin dari rokok memicu sel di paru-paru untuk melepaskan partikel kecil bernama eksosom.
Partikel ini kemudian memengaruhi cara otak mengatur zat besi, yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan sel saraf.
Peneliti Kui Zhang menjelaskan bahwa gangguan pada keseimbangan zat besi dapat merusak sel saraf dan memicu stres pada sistem energi otak.
Kondisi ini berpotensi mempercepat munculnya penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
Baca Juga: Rokok Tingkatkan Risiko Preeklamsia pada Ibu Hamil, Termasuk dari Paparan Asap Pasif
Risiko Demensia Meningkat dalam Jangka Panjang
Sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kebiasaan merokok berat, terutama di usia paruh baya, berkaitan dengan peningkatan risiko demensia secara signifikan.
Bahkan, dalam jangka panjang, risiko tersebut bisa meningkat lebih dari dua kali lipat.
Dampaknya tidak hanya terjadi dalam waktu singkat, tetapi dapat bertahan hingga bertahun-tahun setelah paparan.
Assistant Professor Joyce Chen menegaskan bahwa paru-paru bukan sekadar organ pernapasan, melainkan juga memiliki peran aktif dalam mengirim sinyal yang memengaruhi kesehatan otak.
Penelitian Masih Terus Dikembangkan
Meski memberikan wawasan baru, para peneliti menekankan bahwa studi lanjutan masih diperlukan untuk memastikan mekanisme ini pada manusia secara lebih luas.
Saat ini, tim peneliti juga tengah mengembangkan kemungkinan terapi untuk mencegah kerusakan otak akibat paparan asap rokok.
Upaya ini diharapkan mampu menekan risiko gangguan kognitif di masa depan.
Baca Juga: Siapa Sangka, Rokok dan Senyum Jadi Rahasia Panjang Umur Pramoedya Ananta Toer, Begini Penjelasannya
Pentingnya Mengurangi Kebiasaan Merokok
Temuan ini menjadi pengingat bahwa dampak merokok jauh lebih luas dari yang selama ini dipahami.
Tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat memicu gangguan serius pada otak.
Gangguan komunikasi antara paru-paru dan otak menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif.
Oleh karena itu, mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan merokok sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani