Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Toxic Masculinity Bahaya dan Dapat Menyerang Kesehatan Mental Laki-Laki Apalagi Para Remaja, Begini Penjelasannya!

Lailatul Fadhila Hikma • Jumat, 25 April 2025 | 16:15 WIB
Ilustrasi Toxic Masculinity
Ilustrasi Toxic Masculinity

Jawa Pos Radar Lawu – Laki-laki nggak boleh nangis. Kita pasti kerap mendengar ucapan ini. Stigma sosial yang sampai saat ini masih menjadi budaya di sekitar kita.

Tanpa sadar, sikap seperti ini sudah masuk ke dalam ranah toxic masculinity.

Siapa sangka, kalau ucapan ini terus dilontarkan apalagi kepada para remaja laki-laki, hal ini bisa berdampak buruk terutama terhadap Kesehatan mental mereka.

Apa Itu Toxic Masculinity?

Baca Juga: 3 Rekomendasi Parfum Brand Parfum Lokal Merah Poetih, Bikin Jatuh Cinta Sejak Semprotan Pertama

Toxic masculinity sendiri adalah konsep di mana laki-laki dipaksa untuk memenuhi standar maskulinitas yang kaku dan berbahaya, seperti harus selalu kuat secara fisik dan emosional, menolak menunjukkan perasaan, dan berperilaku agresif.

Maskulinitas sendiri pada dasarnya merupakan karakter yang baik. Namun akan menjadi ‘toxiz’ kala pria dituntut wajib memilikinya demi menyembunyikan sisi lemah mereka.

Toxic masculinity ini sangat berbahaya terutama bagi kesehatan mental laki-laki, termasuk remaja, karena menekan mereka untuk memendam emosi dan tidak mencari bantuan saat menghadapi masalah.

Mengapa Toxic Masculinity Berbahaya bagi Kesehatan Mental Laki-Laki dan Remaja?

Laki-laki yang hidup dalam toxic masculinity merasa dirinya tidak boleh menangis atau menunjukkan kelemahan.

Lama-kelamaan, mereka akan menekan perasaan sedih, stres, atau cemas yang berujung pada stres kronis, depresi, dan kesepian. Mereka akan mengisolasi diri dari lingkungan sosial karena takut dianggap lemah.

Untuk menunjukkan sisi kejantanan, laki-laki mungkin terdorong melakukan perilaku berisiko seperti merokok, minum alkohol berlebihan, atau menggunakan obat-obatan terlarang. Sikap ini memperburuk kondisi kesehatan mental dan fisik mereka.

Melekatnya stigma ‘laki-laki harus mandiri dan kuat’ akan membuat mereka enggan mencari pertolongan profesional kala mengalami gangguan mental.

Hal ini menyebabkan banyak kasus kesehatan mental yang terlambat ditangani dan meningkatkan risiko bunuh diri.

Remaja laki-laki yang tumbuh dalam pola asuh yang menanamkan toxic masculinity cenderung mengalami stres, kesepian, dan emosi yang mudah meledak.

Mereka merasa harus selalu tangguh dan mandiri, sehingga sulit mengekspresikan perasaan dan rentan mengalami gangguan mental.

Intinya, toxic masculinity dapat menciptakan tekanan sosial yang ekstrem pada laki-laki, terutama tetang bagaimana mereka menutupi emosi dan menunjukkan kekuatan secara berlebihan.

Kondisi ini dapat berpengaruh pada kesehatan mental mereka dengan meningkatkan risiko depresi, kecemasan, isolasi sosial, dan bahkan bunuh diri, terutama pada masa remaja yang merupakan masa penting dalam pembentukan identitas dan kesehatan mental. (*)

Editor : Riana M.
#dampak negatif #kesehatan mental #laki-laki #toxic masculinity #remaja #standar maskulinitas