Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Pesan Dokter Jiwa usai Pemilu: Gangguan Mental Perparah Penyakit Komorbid! Simak Penjelasannya

Mizan Ahsani • Selasa, 20 Februari 2024 | 03:30 WIB
Ilustrasi kesehatan mental (JAWAPOS.COM)
Ilustrasi kesehatan mental (JAWAPOS.COM)

Jawa Pos Radar Lawu - Pemilu tak hanya menjanjikan gegap gempita pesta demokrasi. Pascapelaksanaan pemungutan suara, tak sedikit kontestan yang mengalami gangguan mental.

Maklum, terjun ke politik membutuhkan biaya besar. Ketika calon sudah mengeluarkan banyak uang untuk pemilu namun ternyata kalah, mereka berisiko mengalami gangguan mental.

Akan semakin berbahaya bila kontestan pemilu memiliki penyakit komorbid. Bisa-bisa penyakit bawaan menjadi parah akibat gangguan mental.

Hal itu dikemukakan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dr Ashwin Kandouw.

Menurutnya, menyatakan bahwa gangguan mental pascapemilu dapat memperparah kondisi masyarakat yang memiliki komorbid.

"Iya, stres sekarang diyakini punya peran besar terhadap komorbid. Antara lain seperti jantung, stroke," kata Ashwin, via ANTARA.

Dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut menuturkan, stres menjadi satu dari sekian banyak faktor yang langsung mengenai bagian komorbid terkait.

Misalnya pada penderita penyakit jantung atau stroke. Stres dapat mempengaruhi kondisi gangguan pada pembuluh darah.

Stres juga mampu mempengaruhi kadar asam lambung seseorang dan mempengaruhi kinerja lambung.

Sang dokter juga mengatakan stres akan mempengaruhi kondisi metabolik penderita diabetes.

Oleh karena itu, Ashwin menyarankan kepada seluruh masyarakat untuk menikmati pesta demokrasi dengan cara yang menyenangkan.

Kontestan pemilu dan masyarakat harus bersikap lapang dada apabila hasil pemilu tidak sesuai harapan. Ini penting guna menghindari stres.

Bila seseorang merasa mulai mengalami tanda-tanda stres, Ashwin menganjurkan untuk tidak terlalu banyak bermain media sosial.

Dia menyarankan menekuni hobi yang disukai hingga jalan-jalan untuk mengistirahatkan pikiran sejenak.

Sebaliknya, bila yang terkena gejala gangguan jiwa adalah orang terdekat, dia meminta setiap pihak untuk tidak langsung memberikan tuduhan.

Ini supaya gar tidak muncul perilaku self-defense (pertahanan diri) dari penderita.

Menurut dia, akan lebih efektif bila keluarga membantu penderita stres memahami penyebab terjadinya gejala.

"Bukan mendesak dia mengakui gangguan jiwa, itu tidak perlu. Tapi, membuat dia menyadari bahwa dia menderita dan dia perlu pertolongan," jelasnya.

"Kalau dia menyadari bahwa 'iya saya tidak bisa tidur', nah itu harus ada yang bisa menolong," sambung Ashwin. (antara/naz)

 

Editor : Mizan Ahsani
#stres #politik #penyakit #gangguan mental #pemilu