Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Potret Cerpenis sebagai Sejenis Gerimis yang Tak Habis-Habis: Surat kepada Seorang Cerpenis Sebaya

Nur Wachid • Rabu, 28 Februari 2024 | 00:05 WIB
(ILUSTRASI SENTAVIO FREEPIK)
(ILUSTRASI SENTAVIO FREEPIK)

Dalam kesempatan itu, Hari Niskala serasa kian mempertegas apa yang dinyatakan Eka Kurniawan; dan mengingatkan kembali saya pada sebuh esai terjemahan yang sialnya saya lupa judulnya.

Oleh: Polanco S. Achri 

Bung Risen yang rajin menulis cerpen,

SEPERTI yang Anda tahu, saya memanglah punya sejenis kegemaran mengumpulkan lembar-lembar kebudayaan pada koran akhir pekan—yang memuat puisi, cerpen, maupun esai-esaiseni dan sastra. Akan tetapi, saya masihlah kurang nyaman, bahkan merasa sejenis beban, ketika Anda menyamakan kerja iseng pengarsipan dan pengklipingan saya dengan sosok-sosoksemacam Jassin atau Pram; atau bahkan seperti Kabut dan Muhidin.

Akan tetapi, betapa, ketika merapikan arsip-arsip tersebut, yang tentu saja bertambah meski dengan pelan dan perlahan-lahan, saya kerap kali terbawa kembali pada obrolan di bawah pohon mangga depan kontrakan sayadengan Anda; obrolan saat Anda dan saya masih menjadi seorang lulusan jurusan sastra: dan belum dikutuk nasib melanjutkan studi di pendidikan magister kampus utara. Obrolan itu sebenarnya pernah pula saya bincangkan dengan Syafiq ketika masih jadi mahasiswa jurusan sastra dari kampus yang dulunya IKIP; obrolan yang berpijak pada esai Budi Darma yang mana berjudul “Perihal Kedudukan Cerpen”.

Saya begitu mengingat obrolan dengan Anda itu kali, sebab Anda menjawab pertanyaan saya dengan begitu lekas dan begitu mantap. Saat itu, saya bertanya pada Anda tentang apakah Anda tak tertarik menulis novel. Dan Anda, dengan begitu lekas dan mentapnya, menjawab bahwa Anda hendak fokus dan mencukupkan dengan menulis cerpen; hendak fokus menjadi seorang cerpenis—tanpa tergoda menjadi seorang novelis.

Ah, betapa jawaban yang demikian mengejutkan saya; sebab dalam beberapa kesempatan yang lain, ketika bertanya pada kawan-kawan pengarang yang lain, saya sering mendapati jawaban-jawaban yang kurang lebih memiliki bobot yang sama: hendak menjadikan cerpen sebagai suatu pijakan awal dalam menulis novel. Sebab sebaya, dan mempunyai pijakan kurun mula yang samadalam kerja kepenulisan, saya cukup mengingat,bahwa Anda juga menulis puisi dan esai pada suatu kurun. Akan tetapi, jelas, sekali lagi, jwaban Anda, atas tanya itu, mengejutkan saya—

Selama ini, sepengetahuan saya,yang sialnya tak terlampau tinggi, cerpen terlampau sering dipahami kebanyakan sebagai pijakan awal untuk menulis novel ataupun novela. Dan dengan demikian, dapatlah dikatakan, seorang menjadi cerpenis adalah untuk menjadi novelis. Dari sana, dari jawaban Anda, saya jadi bertanya-tanya: Apakahada pengarang (di) Indonesia yang hanya menulis cerpen dan mendapatkan kedudukan yang ajeg melalui cerpen-cerpennya?

Ah, saya paham, untuk menjawab pertanyaan yang demikian, saya mesti membuka buku dan lembar-lembar tentang sejarah sastra (di) Indonesia—yang sialnya seringkali luput dan tidak banyak dicatat akademisi sastra. Akan tetapi, sungguh, saya tidaklah hendak memaksa Anda untuk mencukupkan diri dengan menjadi cerpenis; sebab Anda manusia bebas pula: dan adalah suatu hak Anda guna menulis berbagai genre. Meski begitu, sekali lagi, jawaban Anda sungguh membuka pikiran saya guna menelusuri kembali perihal cerpen.

Dalam kesempatan itu, Hari Niskala serasa kian mempertegas apa yang dinyatakan Eka Kurniawan; dan mengingatkan kembali saya pada sebuh esai terjemahan yang sialnya saya lupa judulnya. Hari Niskala, saat itu, mengatakan bahwa novel lebih meyuguhkan ruang yang luas dalam bereksplorasi dan berkreasi mencipta jagat cerita. Karenanya, beberapa kesalahan pada novel lebih mudah ditolerir pembaca dibandingcerpen. Hari punmenyampaikan pula dengan suara yang diiringi suara kendaraan berlalu-lalang, sebab ia memang tengah menelepon dari kedai kopi pinggir jalan, bahwa cerpen menuntut kerapian, kepadatan, dankefokusan yang amat.

Ia juga menambahkan lagi, bahwa cerpen, sebab pendek, memiliki tarik-ulur yang unik ketika menyoal detail, baik dalam penceritaan tokoh-penokohan ataupun latar. Pernyatannya, sebagai pengarang, bagi saya, tentulah cukup memuaskan; meski jelaslah masih menyisakan rongga-rongga. Pernyataan tersebut pun mengingatkan sayakembali pada salah satu esai Iwan Simatupang ketika membicarakan cerpen—dan hasil cipta fiksi lainnya. Bagi seorang Iwan, pengarang adalah seorang yang menunjuk-arahkan; meski terbuka kemungkinan memperjelas atau memburamkan.

Dari sana, saya membayangkan, bahwa seorang cerpenis adalah sejenis gerimis—yang mungkin tak habis-habis: datang kembali setelah sejenak pergi. Cerpen, agaknya, memang tak hadir untuk mengguyur, tetapi sekdar membasahi dan juga menyegarkan kembali. Cerpen dan cerpenis, barangkali, tak genap membuat genangan yang memantulkan, tak genap membasahi hingga kuyup; tetapi cerpen dan cerpenis, yang baik agaknya, akan membuat seorang berpikir dan menimbang-nimbang: hendak bertahan atau menerjang, hendak melanjutkan atau sejenak berhenti memandang menanti reda.

Dan sekali lagi, sungguhlah tak ada niatan untuk memaksa Anda dengan hanya menjadi seorang penulis cerpen; tetapi, sebagai kawan, sebagai rekan pada dunia kepengarangan yang ganjil di negeri yang janggal ini, senang rasanya bila Anda benar-benar berani dan memantapkan diri berdiri sebagai cerpenis. Dan sebagai sejenis penutup, agaknya Anda dan saya bisa bersepakat, sebagai sebuah genre sastra, yang unik dari cerpen adalah kependekan dan kepadatannya: sebab dengan demikian para pembaca bisa berulang membaca dalam waktu yang berdekatan. []

(2021—2024)

 Baca Juga: Kala Gus Sholah Ditawari Jadi Bendahara PBNU

BIODATA SINGKAT:  Polanco S. Achri lahir di Yogyakarta, Juli 1998; dan menetap pula di kota tersebut. Ia menulis puisi, prosa-fiksi, dan esai-esai pendek tentang seni dan sastra; dan sesekali menulis naskah perunjukan dan kuratorial seni rupa. Beberapa tulisannya tersiar di media, daring maupun cetak. Selain menulis, ia mengelola Pendjadjaboekoe dan Majalah Astro; serta memimpin Sindikat Muda Liar Ngantukan. Ia dapat dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan/atau Instagram: polanco_achri, HP 082329712390. 


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

Editor : Nur Wachid
#novel #cerpen #hari niskala #eka kurniawan #POLANCO S. ACHRI #esai