Cerpen Ditendang Malaikat
Oleh Cak Uki *)
Di ruang tamu, istri dan anak-anak dari Syukur masih larut dalam suasana tangis tak terbendung. Sani, sang istri, tampak lebih realistis menghadapi tubuh suaminya yang tidak lagi bergerak. Mengenakan mukena, sambil duduk bersimpuh, ia membaca Qur'an, Surat Yasin.
Beberapa keluarga yang lain juga melakukan hal sama, di ruang tamu berukuran sekitar 3×4 meter itu. Keluarga lain dan beberapa warga memilih duduk di teras rumah agar ruang tempat jenazah disemayamkan tidak sesak. Berapa yang lain berada di halaman rumah. Di masjid kampung, petugas, melalui pelantang suara mengumumkan berita duka.
"Innaalillaahi wainnaa ilaihi rooji'uun. Malam ini, telah meninggal dunia, saudara kita, Bapak Syukur. Insya Allah, jenazah almarhum akan dikebumikan, besok pagi, sekitar pukul 8. Mohon kekompakannnya untuk semua warga."
Baca Juga: Sinyal Tak Terduga Muncul, Manchester United Berpeluang Dapat Keuntungan Besar
Roh, mungkin lebih tepatnya jiwa yang dibersamai roh Syukur, masih menyadari dirinya terpisah dengan tubuh yang kini kaku. Si jiwa, penyimpanan memori atas semua perbuatan manusia di dunia dan roh adalah sambungan jalur dengan Sang Maha Hidup, juga menyaksikan istri dan anak-anaknya menangis.
Si jiwa merasa seperti naik, jauh ke satu tempat, namun suasananya masih seperti di Bumi.
Pada tempat baru itu, si jiwa merasakan seperti masih menempati tubuh Syukur. Lebih tepatnya, seperti mimpi. Satu sosok tinggi besar datang, dengan membawa gada besi. Meskipun tidak mampu melihat wajah sosok besar bercahaya itu, Syukur menyaksikan sosok yang menyeramkan. Jiwa Syukur merasakan, inilah sosok malaikat pemeriksa semua amal.
Baca Juga: Black Hole (Lubang Hitam) Bukan Penyedot Kosmik, Ini Fakta yang Sebenarnya Perlu Diketahui
Sosok itu mulai beraksi. "Selama di dunia, kamu makan?"
Pertanyaan itu dijawab, "ya" oleh Syukur.
Sosok itu langsung melayangkan gadanya, kemudian menendang Syukur, hingga berguling-guling beberapa meter.
Tanpa diketahui gerakan kakinya, si sosok besar itu sudah ada lagi di dekat Syukur.
"Kamu minum (air)?"
Lagi-lagi dijawab "ya". Si malaikat memberikan reaksi yang sama. Bahkan, tendangannya lebih keras dan kuat.
Baca Juga: Resep Wajik Ketan Gula Merah, Camilan Tradisional yang Legit dan Manis
Dalam kebingungan yang tidak tahu apa maksudnya, Syukur mendapatkan pertanyaan lagi dari malaikat.
"Di dunia, kamu juga tidur?"
Jawaban "ya", membuat si malaikat bereaksi lebih keras, hingga beberapa kali lipat.
"Kamu juga menafkahi anak istrimu?"
"Tentu saja," jawab Syukur, mulai bernada ketus dan protes.
Syukur belum paham juga dengan maksud si malaikat atas pertanyaan itu. Tendangan kembali diulang, dengan kekuatan berlipat yang tidak pernah ia jumpai selama di dunia.
Tiba-tiba, "Kamu belum waktunya kembali kepada Allah. Sekarang balik lagi ke dunia."
Tiba-tiba tubuh Syukur bergerak. Gerakan pertama dari lelaki bertubuh kecil dan gempal yang dikenal sebagai sosok rajin beribadah itu, setelah dinyatakan meninggal, adalah tangannya.
Setelah kesadarannya pulih total, dan menyadari tubuhnya telentang di atas dipan, tangannya menarik jarit batik yang biasa digunakan oleh warga untuk menutup tubuh mayat, sebelum dimandikan.
Baca Juga: Kebiasaan Menyilangkan Kaki Saat Duduk Bisa Picu Kesemutan hingga Nyeri Punggung
Istri, anak-anaknya, dan warga yang dari petang duduk mengitari jenazah sambil merapalkan doa, kaget dengan kenyataan tubuh Syukur kembali bergerak.
"Ya Allah." Teriakan yang hampir serempak dari istri dan anak-anaknya. Tersirat pikiran tidak percaya dengan kenyataan itu.
"Hidup lagi," teriak yang lain.
Frasa "Hidup lagi" itu menular dari mulut ke mulut, hingga terdengar ke area halaman rumah, tempat sekitar 9 bapak-bapak yang duduk bergerombol di depan rumah Syukur, menunggu pagi.
Sudah menjadi tradisi di kampung, jika ada orang meninggal pada malam hari, para bapak berkumpul di halaman rumah duka, menemani keluarga menunggu pagi, untuk mengebumikan jenazah pada esok hari.
Serempak para lelaki itu melempar rokoknya. Ada yang baru disulut api, ada yang baru seperempat disedot, dan ada yang di tengah batang. Permukaan tikar lipat yang mereka duduki bergeser ke segala arah terbawa oleh gerakan pantat warga yang tergesa-gesa ingin melihat Syukur hidup lagi.
Mereka berhamburan masuk ke ruang tamu tempat jenazah Syukur. Ruang tamu dengan warna dinding putih dan di salah satunya berhias kaligrafi "Laahaula walaaquwwata illaa billah" itu menjadi penuh.
Mereka melihat Syukur sudah duduk dipeluk oleh anak dan istrinya di atas dipan.
"Alhamdulillah." Istri dan anak-anaknya tidak berhenti mengucapkan kalimat syukur tersebut.
"Berapa lama aku dinyatakan mati?"
"Enam jam, Pak. Tadi mulai pukul 6 petang." Sahut istrinya. Jarum pendek di jam dinding menunjuk pada angka 12.
Baca Juga: Tawaran Fantastis Datang, Galatasaray Justru Langsung Mengambil Sikap
Gabungan dua kata, "hidup lagi" itu menyebar ke telinga warga lain, termasuk kepada mereka yang malam itu tidak sempat berkumpul di depan rumah Syukur.
Seorang petugas masjid yang petang tadi menyiarkan berita kematian, tampak bingung. Apakah peristiwa hidupnya lagi Syukur itu perlu diumumkan di masjid? Kok rasanya janggal, mengumumkan adanya warga yang hidup lagi. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 00:11.
"Ndak usah diumumkan lagi dah! Biar kita sebarkan dari mulut ke mulut saja." kata Haban, ketua RT.
"Iya, Pak RT, kita kan tidak tahu, apakah Pak Syukur ini hidup lagi beneran, apa hanya sebentar, lalu mati kembali," kata Hadi, salah satu warga.
Kampung yang sebelumnya dipenuhi suasana duka kematian, pada dini hari itu bertumbuk kegembiraan dengan kabar Syukur hidup lagi.
Ketika warga heboh dengan peristiwa itu dan keluarganya larut dalam kebahagiaan atas kembalinya roh ke jasad, Syukur justru risau dengan pertanyaan yang mulai bergelayut dalam pikiran dan perasaannya.
"Kenapa aku ditendang dan dipukul oleh malaikat atas empat pertanyaan itu ya?"
"Kok pertanyaannya bukan manrobbuka, atau mannabiyyuka, mankitabuka?"
Pikiran Syukur mulai mempertanyakan apanya yang salah dengan perbuatan makan, minum, menafkahi keluarga, bahkan tidur.
"Bukankah aku makan dan minum dengan cara yang halal dan baik? Aku sudah menjaga betul, makanan dan minumanku berasal dari sesuatu dan usaha yang halal. Menafkahi keluarga, aku juga dapatkan dari cara yang halal dan baik."
Baca Juga: Namanya Bubur Pedas Tapi Kok Tidak Pedas? Ini Asal Usul Kuliner Khas Pontianak
Bahkan, barang-barang yang dijual di tokonya juga selalu diusahakan untuk tidak mengambil untung terlalu banyak. Karena itu banyak pemilik toko yang merasa iri karena Syukur menjual barang dengan harga lebih murah dari toko lainnya. Warga yang menjadi pelanggannya tentu senang dengan praktik dagang yang dilakukan Syukur.
"Mengenai tidur, aku disalahkan juga. Apanya yang salah? Aku tidur di ranjangku sendiri, di rumahku sendiri. Bukan di ranjang atau rumah orang lain. Sebagaimana makan, sebelum tidur, aku juga selalu membaca doa. Apanya yang salah?"
Malam itu, Syukur dan keluarganya tidak bisa tidur, hingga subuh. Selesai Salat Subuh berjamaah di masjid, dia buru-buru pulang, meskipun beberapa orang yang juga rajin salat di masjid itu penasaran ingin mendengar cerita Syukur mengalami mati yang biasa disebut dengan mati suri itu.
Sampai di rumah, ia pamit ke istrinya untuk pergi ke rumah Kiai Syukron, ulama kampung di desa sebelah yang ilmu agamanya dianggap mumpuni.
Pagi masih setengah buta, ketika Syukur menyuarakan salam di depan rumah Kiai Syukron.
"Wa'alaikumussalaam. Mari masuk pak. Ada apa ya, kok pagi-pagi buta ke sini?"
"Mohon maaf, kiai, kalau kedatangan saya sekiranya mengganggu. Saya ada pertanyaan yang bagi saya sulit untuk dipahami."
"Pertanyaan apa itu, Pak?" Kiai Syukron rupanya belum mendengar kabar bahwa Syukur mengalami mati suri.
"Saya tadi malam, dari pukul 6 petang sampai pukul 12 malam, meninggal dunia, kiai."
Syukur menceritakan pengalaman diperiksa malaikat, lalu dihukum dengan pukulan dan tendangan. Kemudian ia hidup kembali.
Baca Juga: Tielemans Buat Fans Mantan Klub Geram, Ucapannya Berujung Permintaan Maaf
Kiai Syukron tidak langsung merespons, kecuali hanya mengamati wajah Syukur dalam-dalam.
Setelah cukup lama terdiam, ia menjawab. "Mohon maaf Pak Syukur, saya belum bisa memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Terus terang, pertanyaan itu tidak ada dalam ilmu agama yang saya pelajari selama ini."
Pagi mulai membuka tabir gelap. Semburat keemasan dari arah timur mulai menyinari bumi, meski matahari belum tampak. Syukur pamit pulang, diiringi permintaan maaf Kiai Syukron yang tidak mampu memberikan pencerahan atas pengalaman unik dan langka itu.
Perjalanan pulang, dengan waktu sekitar 15 menit, membuat pikiran Syukur, lelaki dengan rambut keriting itu makin berkecamuk. Ia pulang disambut istri dan anak-anaknya yang masih penasaran, apakah si kepala keluarga itu betul-betul hidup kembali.
"Dari mana Pak?"
"Dari Kiai Syukron," jawab Syukur pada istrinya.
Pagi itu, istrinya, dari selesai Salat Subuh sudah menyiapkan sarapan kesyukuran atas kembalinya roh si suami. Ia memasak sayur kulupan daun pepaya muda dicampur daun singkong kesukaan Syukur, lengkap dengan sambal terasi, dengan dua lombok.
Pagi itu, istri Syukur melihat suaminya tidak seperti biasanya. "Kok bapak, sepertinya tidak menikmati sayur kesukaan bapak? Kenapa pak?"
"Ndak apa-apa buk, aku masih terbawa pengalaman tadi malam saja. Aku tadi konsultasi ke Kiai Syukron, tapi beliau tidak bisa memberikan penjelasan. Nanti siang aku mau ke Kiai Sahal ya."
Si istri hanya mengangguk, tidak terpantik untuk bertanya topik apa yang ditanyakan suami ke Kiai Syukron.
***
"Waduh, mohon maaf ya Pak Syukur, saya belum bisa memberikan penjelasan atas pengalaman bapak ini," begitu jawaban Kiai Sahal, kepada Syukur, siang itu.
Jam berganti, hari bergulir, bulan berjalan, semuanya berlalu. Syukur belum menemukan jawaban atas pengalamannya ditendang malaikat itu.
Secara sosial, Syukur kembali hidup normal dengan aktivitas mencari nafkah menjaga tokonya, bergantian dengan istri, dan satu karyawan yang membantu melayani pembeli.
Ia merasakan, perputaran uang dari barang dagangannya di toko semakin cepat. Tokonya makin laris.
Secara agama, Syukur semakin rajin dan istikamah melaksanakan hal yang wajib, termasuk yang sunah.
Sikap dan perilakunya, sebagaimana disaksikan warga lain, juga semakin meningkat baik. Semua warga yang meminta bantuannya, baik tenaga maupun uang, tidak pernah dikecewakan oleh Syukur. Di keluarga, Syukur tidak pernah marah kepada istri dan anak-anaknya.
Hanya satu yang tetap memberati pikirannya. Pengalaman ditendang malaikat.
Suatu sore, tidak sengaja ia lewat di depan rumah Mbah Wito, lelaki yang tinggal sendirian di rumah sederhana di kampung itu. Syukur begitu saja menyetujui ajakan si mbah untuk mampir ke rumahnya.
Pada pertemuan itu, Syukur, tiba-tiba ingin menceritakan pengalaman ditendang malaikat kepada si mbah yang selama ini dikenal tidak banyak tahu tentang agama itu.
Baca Juga: Resep Siomay Ayam Bandung yang Lembut dan Gurih, Lengkap dengan Saus Kacang
"Oh, Nak Syukur sudah setahun lebih ya, bertanya ke banyak orang mengenai apa maksud dari pengalaman mati itu?"
Syukur hanya mengangguk pelan dan tidak banyak berharap jawaban lanjutan dari si mbah yang bagi logikanya tidak mungkin bisa memberikan jawaban.
"Kenapa selalu mencari jawaban ke luar, Nak? Kenapa tidak mencari jawaban ke dalam diri?"
Pertanyaan si mbah itu, justru makin menguatkan ingatan Syukur yang jawabannya selalu dianggap salah oleh si malaikat.
"Cobalah mencari jawaban ke dalam diri. Saya tidak mengerti pemahaman agama, tapi saya pernah mendengar seorang kiai sepuh, sudah almarhum yang dianggap wali oleh masyarakat, bahwa hati terdalam manusia itu adalah bait Allah. Ada Bahasa Arabnya, tapi saya lupa. Allah bersemayam di dalam hati terdalam kita. Saya pernah mendengar juga bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher kita."
"Kita sering terkecoh dengan selalu melihat ke luar, karena melihat seseorang yang pemahaman agamanya terlihat tinggi. Kita lupa yang sejati yang ada di dalam diri."
Berbeda dengan pengalaman ketika bercerita kepada Kiai Syukron dan Kiai Sahal, Syukur merasakan sesuatu yang menyejukkan dari suara si mbah. Seolah tubuhnya disiram air dari dalam, dan sangat menyejukkan. Pikirannya mulai berubah tentang si mbah yang kesehariannya hanya mengenakan sarung, udeng, dan sering bertelanjang dada itu. Pikirnya, lelaki berusia sekitar 80 tahun itu tidak sebodoh sangkaan orang.
Tidak ada rasa kaget, ketika jiwanya, bukan pikirannya, mulai bisa menangkap pemahaman dengan perlakuan malaikat dalam pengalaman mati itu.
" Semua yang nyata ini adalah kuasa-Ku." Kalimat itu muncul dari dalam. Kalimat yang tidak berhuruf dan tidak bersuara.
Baca Juga: Negeri Saleman Pesona Tersembunyi di Utara Pulau Seram
Syukur teringat dengan pemahaman hikmah bahwa "Tidak ada daya dan kekuatan, kecuali Allah" yang selama ini hanya memenuhi otaknya, bukan hatinya.
Selama ini, Ia mendurhakai penggalan lafal dari Surah Al-Kahfi ayat 39 dalam Al Quran itu. Ia menganggap bahwa makan, minum, menafkahi keluarga, bahkan tidur, adalah semata-mata karena dirinya sendiri. Ia telah melupakan bahwa semua adalah kekuatan-Nya, wujud-Nya, dan af'al-Nya.
Sore itu, pikirannya luruh, permohonan ampun kepada Allah meluncur deras dari hati terdalamnya.
"Ampun ya Allah, aku makan, minum, tidur, bekerja, semua itu kuanggap karena aku. Aku telah lalai bahwa semua itu karena af'al-Mu, kuasa-Mu."
Syukur pamit pulang, dengan rasa hormat mendalam kepada Mbah Wito. Ia mencium tangan si mbah. (*)
BIODATA SINGKAT PENULIS
*) Cak Uki adalah Masuki M Astro, redaktur senior LKBN ANTARA, yang sesekali menulis cerpen dan puisi.
Editor : Nur WachidSumber : jawa pos radar lawu