CERITA MISTERI, Jawa Pos Radar Lawu – Masyarakat Indonesia khususnya di daerah Jawa Timur masih percaya mitos joran sakti yang dibuat dari meteran kuburan orang yang baru meninggal.
Setiap ada orang yang meninggal, biasanya penggali kuburan menggunakan bilah bambu selebar dua jari tangan dewasa untuk mengukur panjang jenazah.
Bambu tersebut kemudian digunakan untuk mengukur panjang tanah yang perlu digali.
Biasanya mereka akan ikut menguburkan bambu yang dipakai untuk meteran karena jika tidak, arwah jenazah bisa gentayangan mencarinya.
Beberapa orang yang hobi memancing justru mencari bambu ini untuk dijadikan joran pancing.
Salah satunya, Bagus (28) seorang pemuda anak satu yang masih balita.
Pagi hari saat tetangganya meninggal, Bagus sengaja mencari bambu. Saat prosesi pemakaman,
Bagus diam-diam menukar bambu meteran dengan bambu miliknya. Tanpa ketahuan warga ia membawa pulang bambu meteran kuburan.
“Sorenya saya pakai mancing, Mas. Nggak ada firasat apa-apa. Malah saya seneng banget. Dapat banyak banget soalnya. Ember saya sampai nggak muat,” ucap Bagus.
Saat azan maghrib berkumandang barulah Bagus pulang. Membawa seember ikan dan joran yang kini jadi kesayangannya.
“Baru setelah maghrib keanehan terjadi, Mas. Posisinya saya habis shalat, istri lagi masak ikan yang saya dapat. Anak saya kan umurnya masih satu setengah tahun. Dia tiba-tiba nangis kejer.”
Tangisan yang bukan tangis biasa. Tangis anak Bagas tidak bisa diredam.
Tidak mau diberi susu, tidak diam meski sudah diajak jalan-jalan. Semakin kencang saat masuk rumah.
Matanya terus menatap ke langit-langit rumah seperti tengah melihat sesuatu di atas sana.
“Saya bingung banget. Masalahnya nangisnya nggak berhenti-berhenti, Mas. Sampai besokannya anak saya masih nangis. Badannya sampai panas.”
Mendengar berita cucunya sakit, orang tua Bagus datang menjenguk. Dari sanalah ia baru tahu semua penyebabnya.
“Bapak kan salah satu tokoh agama di desa. Pas liat cucunya dia langsung ngerti. Dia jalan ke dapur sambil bibirnya komat kamit. Pas sampai di depan joran saya, dia berhenti.”
Joran sakti meteran kuburan inilah sumber setan yang mengganggu cucunya.
“Saya dimarahin habis-habisan, Mas. Jorannya dipatahin dibakar langsung sama bapak. Saya belum pernah lihat bapak marahin saya sebesar itu. Gara-gara joran. Gara-gara saya bawa pulang meteran kuburan.” (*)
Editor : Nur Wachid