CERITA MISTERI, Jawa Pos Radar Lawu – Bastian (9) memungut uang di tengah jalan. Ia tak tahu uang yang dia dapatkan adalah uang pancingan, konon tumbal pesugihan.
“Pikirnya rejeki nomplok,” ucap Budi (9) teman Bastian meneruskan kisah horor yang mereka alami awal tahun 2000-an dulu. “Setelah minum es degan, aku sama Bastian. Rumah bastian ke timur sementara rumahku ke utara. Tapi ternyata Bastian nggak pernah pulang.”
Budi baru tahu pas malam hari tiba-tiba orang tua Bastian yang juga ketua RT 5 mendatangi rumahnya.
“Pak Seno (40) nyariin Bastian ke rumah. Bingung lah. Orang tua mana yang nggak bingung anaknya nggak pulang sejak pulang sekolah sampai isya? Mana waktu itu kita masih SD ya kan.”
Kabar hilangnya Bastian sontak menggegerkan kampung. Ibu Bastian sampai jatuh pingsan.
Sementara saksi kunci yaitu Budi, mengaku Bastian sudah pulang. Mereka berpisah di perempatan es degan seperti biasanya.
“Wah rame, Pak. Desa geger. Aku bilang ke Pak Seno sama orang-orang desa, Bastian nemu duit tadi di deket sekolah, trus kami mampir beli es degan. Orang-orang bilang uang yang diambil Bastian uang pancingan. Dulu aku nggak tahu artinya.”
Dua orang kakak bastian langsung membuat kelompok untuk mencari keberadaan adiknya.
Ada yang mengecek ke sekolah. Ada yang sampai menjelajah sawah-sawah. Hilangnya Bastian sampai disiarkan ke semua masjid yang ada di desa.
“Aku sama orang tua nggak boleh ke mana-mana, Pak. Mereka bilang aku ikut makan uangnya. Bisa saja aku korban selanjutnya, gitu. Saya dikurung di kamar. Nggak boleh main, nggak sekolah, nggak boleh ke mana-mana.”
Pencarian Bastian masih tak kunjung membuahkan hasil. Hari ke-2 polisi menurunkan anjing pelacak.
Tapi yang ditemukan hanya sepeda Bastian. Di temukan di tempat yang sangat aneh. Di atas rimbun pohon bambu dekat kuburan.
“Bagaimana sepeda Bastian bisa sampai sana? Nggak ada yang tahu juga, Pak. Duh aku jadi merinding lagi kalau ingat,” lanjut Budi.
Di hari ke-3 akhirnya jasad Bastian ditemukan. Mengapung tersangkut akar pohon di kedung sungai.
“Aku sedihnya nggak main-main juga, Pak. Bastian teman dekat saya banget. Saya nggak menyangka kalau es degan siang itu akan jadi momen terakhir saya ketemu Bastian.”
Tapi di antara semua keanehan, Budi membisikkan sesuatu yang membuatnya paham atas apa yang menimpa Bastian.
“Namanya Pak Sarmin. Rumahnya RT sebelah. Sebelum Bastian ditemuin warga udah mengira kalau dia pelakunya. Bener aja, belum ada 40 hari Bastian pergi, tiba-tiba dia beli motor baru. Menurut sampean kebetulan apa memang Pak Sarmin pelakunya?” (*)
Editor : Nur Wachid