CERITA MISTERI, Jawa Pos Radar Lawu - Farel (18) tiba di tanah lapangan kosong angker. Mitosnya di bawah tanah lapangan ada banyak orang yang mati karena PKI.
Baru melangkah, Farel langsung merasakan hawa tidak enak. Heningnya lain. Padat seperti berada di tengah kerumunan orang.
“Baru sampai di pinggir lapangan rasanya sesak banget. Kayak lagi di tengah konser,” ucap Farel.
Farel masuk lapangan sendirian.
Teman-temannya hanya mengantarkan lalu menunggu di ujung gang. Farel menyalakan senter dan mulai melangkahkan kaki.
Selangkah, dua langkah masih aman. Tiba-tiba terdengar suara burung gagak menyalak.
‘Krakkkk... !!!’ “Saya arahkan senter ke pohon tempat suara burung tadi berasal. Nggak ada apa-apa. Tapi saya rasa kayak ada yang liatin dari pohon-pohon.”
Farel memberanikan diri. Ia terlanjur sampai, dan sudah kalah taruhan. Kalau sampai ia kembali, pasti teman-teman Farel akan meledeknya cemen.
“Saya cuma mikir pengen buru-buru selesai, Mas.” Farel melangkah cepat. Bukan lagi berjalan, Farel berlari.
Satu putaran selesai, napas Farel mulai terengah-engah. Keringat bercucuran. Sampai tiba-tiba Farel tersungkur.
Tubuhnya ambruk menghantam tanah sangat keras. Sambil meringis, Farel mengarahkan senternya ke bawah, ke arah kaki.
Tampak sesosok tangan keluar dari bawah tanah, mencengkeram kakinya. “Aku teriak, Mas! Aku mau lari tapi kakiku dipegangi.”
Tak sampai di situ, saat cahaya senter mengarah ke tempat lain. Tampak sosok-sosok bayangan manusia merangkak, merayap mendekati Farel.
“Tulung... Tulung aku... Tulungg.... Gitu suaranya, Mas.” Lewat tengah malam, teman Farel yang merasa curiga mendatangi lapangan.
Mereka tak menemukan apa-apa, selain senter yang masih menyala di atas tanah lapangan basah.
Farel ditemukan keesokan pagi di atas pohon besar dalam keadaan linglung.
“Cuma gelap, Mas. Saya nggak tahu apa-apa sebelum saya dibangunin orang-orang ramai banget,” tutup Farel. (*)
Editor : Nur Wachid