Cerita Misteri Jalur Pendakian Angker Gunung Lawu
RIAK air kolah belum juga tenang saat Mila naik ke tepi batu, tertawa puas. Pakaiannya basah kuyup.
Tapi wajah lelahnya sirna, ganti bersinar segar. “Kalian harus coba sih, capek-capek semua ilang,” katanya sambil mengusap lengan.
Tanpa pikir panjang, Andri ikut melepas kausnya. “Ah udah lah, lu bikin gue ngiri doang.” Ia nyemplung, cipratan airnya menyusul suara tawa.
Danu menyusul tak lama kemudian. Kamera diletakkan di batu. “Gue juga mau!” Tawa mereka bercampur, membaur dalam canda di tengah segarnya air kolah.
“Woy, sumpah ini airnya enak banget,” seru Andri sambil berenang pelan.
“Segarnya air gunung emang beda. Bikin badan enteng,” sahut Danu, terlentang mengapung.
Ari berdiri di tepi, ragu.
Tatapannya tetap tertuju pada air. Ia masih ingat bayangan tadi yang sekilas lantas hilang. Tapi tawa teman-temannya mulai mengikis kegelisahan.
Tidak ada hal aneh yang terjadi. Tidak ada penampakan lagi. Tidak ada makhluk keluar dari air.
Kegembiraan menguar, mewarnai suasana. “Ar... ayo sini! Lu cobain deh,” panggil Andri.
Ari menghela napas.
“Mungkin... cuma pikiran gue aja,” pikirnya dalam batin. Ari menaruh tas, melepas jaket, dan perlahan menuruni batu ke dalam kolah.
Saat kakinya menyentuh air, tubuhnya bergidik, bukan karena dingin, tapi karena kelegaan yang tak bisa dijelaskan.
Airnya seperti menyambut, sejuk menyelimuti tubuhnya. Ari benar-benar menyerahkan dirinya, menyelam pelan.
Saat naik ke atas, rasa lelah di punggungnya menghilang. Berat di pundaknya meluruh. Untuk pertama kalinya sejak masuk hutan, ia merasa tenang.
Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum lega. (bersambung)
Editor : Nur Wachid