Cerita Misteri Petilasan di Jalur Baru Gunung Lawu
Langit di kaki Gunung Lawu masih kelabu ketika empat pendaki tiba di basecamp. Kabut menggantung rendah, menatap mereka di antara pepohonan.
Ari memandangi puncak. Jaket gunungnya kusam. Wajahnya lesu, datar.
“Hadeh... Gunung Lawu lagi,” keluhnya. “Kayak nggak ada gunung lain aja. Udah bosen gue.”
“Mau gimana lagi, Ar.” Andri mengangkat bahu. “Kita libur kuliah cuma 2 hari. Daripada nggak daki.”
Mila memeriksa tali sepatunya dengan cekatan. Pendaki perempuan satu-satunya. Pendiam, tapi bukan tipe pemalu. Ia tajam, suka tantangan.
“Gimana kalau kita coba jalur lain.” Alis Mila terangkat-angkat. “Lewat tengah hutan gitu biar menantang.”
Danu, si penggembira kelompok, sedang tertawa-tawa sendiri sambil ngerekam story buat Instagram. “Ide bagus tuh. Biar gue ada konten.”
“Nggak. Eh lu yang bener aja. Kalau kesasar gimana?” protes Ari.
“Yaelah masa’ takut.” Mila menaikkan ranselnya ke atas pundak. “Masa’ kalah sama cewe, Ar?”
“Gue sih gas.” Andri menimpali. “Udah 10 kali gue naik Gunung Lawu. Ya kali kesasar.”
Ari kalah suara. Dengan berat hari akhirnya mengangguk. “Yaudah-yaudah gue ngikut.”
“Gitu dong.” Mila menyikut Ari. Empat orang, satu niat. Keluar jalur, mencoba mencari jalur baru.
Gunung yang sudah akrab bagi mereka. Tapi Gunung Lawu gunung keramat. Bukan gunung untuk coba-coba. (bersambung)
Editor : Nur Wachid