Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cerita Misteri Vila Angker Gunung Lawu Part 27, Tumbal Kekayaan

Saestu Saget • Senin, 21 April 2025 | 04:05 WIB
Cerita misteri vila angker Gunung Lawu.
Cerita misteri vila angker Gunung Lawu.

Cerita Misteri Tumbal Vila Angker Gunung Lawu 

SERANGAN burung jalak liar belum berakhir. Kepakan sayap berkumpul menghantam dinding goa. Mencipatakan badai kecil yang dikurung di ruang sempit.

Debu beterbangan. Ritual sakral hancur berantakan. Pak Cokro membuka mata. "TERUSKAN!" bentaknya, meraung marah.

Bu Sita gemetar, tapi tak gentar tetap membaca rapalan. Pak Wiryo mencengkeram kencang leher Wati dari belakang.

Sayang hewan buruan mereka telah sadarkan diri. Mata Wati terbuka. Bola matanya berkilapan cahaya.

Bayangan ibunya muncul jelas, suaranya memanggil dari kejauhan. Mengalahkan semua suara yang ada.

"Mantok, Nduk... (Pulang, Nak) Ibu cuma punya kamu." Seketika tubuh Wati menegang.

Ia menggigit bibirnya, mencicipi rasa darah sendiri. Getaran menjalar. Kesadaran dan keberanian menjalar dari debar jantung, menyusuri aliran darah ke sekujur tubuhnya.

”Aku tidak boleh mati!” Tangan Wati bergerak cepat. Ia meraih cobek keempat. Membalikkannya. Isinya tumpah ke tanah.

Sedang 3 cobek lain berisi bunga, dupa, rambut, dan piranti lain telah diacak-acak kawanan burung jalak.

Bu Sita menjerit. Pak Cokro berdiri, marah. “WATI!” bentaknya. “KURANG AJAR!”

“AKU BUKAN TUMBAL KE-TUJUH KALIAN!” sentak Wati balik.

Burung-burung jalak terbang mengitari Wati. Suara kicau mereka saling bertindih mengalahkan rapalan mantra.

Pak Wiryo mencoba menarik Wati. Wati melawan. Satu dorongan membuat tubuh Pak Wiryo terpental ke dinding.

Pak Cokro melangkah maju. Burung-burung jalak membantu Wati. Paruh-paruh tajam mereka menyerang wajah Pak Cokro.

“ARGHHH!!” Wati menatap Pak Cokro. “Kalian ingin darahku? Jangan mimpi!” Lalu ia menggigit pergelangan tangannya.

Dalam. Sampai darah memercik. Wati ingat, Arsi jatuh begitu Wati menyesap darahnya sendiri.

Wati melakukannya lagi. Mengisap luka gigitannya sendiri. Seketika, goa dipenuhi teriakan kemarahan.

Bu Sinta terkapar. Pak Wiryo memegangi dada. Pak Cokro jatuh berlutut. Wati tahu ini belum selesai. Ia harus keluar sekarang juga. (bersambung)

Editor : Nur Wachid
#tumbal #gunung lawu #vila angker #cerita misteri #jalur pendakian