Cerita Misteri Seramnya Jalur Pendakian dari Vila Angker Gunung Lawu
PAK Wiryo menyingkap sulur-sulur akar, membuka jalan masuk. Pak Cokro menyalakan dua lilin merah, meletakkannya di sudut mulut goa.
Matanya menatap Wati, menyuruh masuk. Wati bergeming. Ia enggan, tapi tubuhnya melangkah sendiri.
Tangannya gemetar. Pikirannya kosong. Begitu masuk, bau amis langsung menyergap. Lembab. Busuk. Tanah gua basah yang haus akan darah.
Di tengah ruangan sempit itu, terbentang batu bundar. Ada simbol-simbol kuno aksara jawa, ditulis cairan mengering merah kehitaman.
Tiga cobek sudah tersusun. Yang keempat—masih kosong. Pak Cokro cukup hanya menatap Wati.
Wati tak lagi bisa mengendalikan tubuhnya. Ia duduk di atas batu. Bu Sita mendekat, membuka ikatan selendang yang entah sejak kapan ada di pinggangnya.
Mulutnya komat-kamit membaca sesuatu. Mata Wati kosong, tatapannya lurus membelakangi mulut goa.
Dahinya mulai diolesi minyak. Bunga melati ditaburkan ke atas kepalanya. Cobek keempat mulai diisidarah segar dari telapak tangan Wati.
Di belakangnya, tiga orang lain duduk bersila. Ritual pamungkas dimulai. Wati merasa pusing. Kepalanya berat.
Ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Menyeruak lewat telinga, menyusuri nadi, menggali ke dalam pikirannya.
Gambaran-gambaran aneh melintas. Laut darah. Arsi. Makam di belakang villa. Burung gagak. Dan setan plontos di meja makan muncul.
"Wati.... Nak...Mantok, Nduk. Mantok... (Pulang, Nak. Pulang.)" Wati membuka mata.
Semua gelap. Dan dari balik kegelapan itu, suara tawa terdengar pelan. Tawa Arsi.
Wati tersentak. Ingin memberontak, tapi tubuhnya tak bisa bergerak. Rapalan mantera terakhir meninggi.
Ritual persembahan nyawa darah perawan. Di antara semua suara.
Burung jalak tiba-tiba muncul dari yang awalnya hanya satu, menggandakan diri jadi belasan bahkan puluhan mengepak-kepakkan sayapnya di mulut gua.
Lilin merah di depan mati Hati Wati bergetar. Ia kembali sadar. Satu kata terucap. “Ibu.” (bersambung)
Editor : Nur Wachid