Cerita Misteri Terjebak di Vila Angker Gunung Lawu
“Cuma mimpi…” Wati duduk di tepi ranjang.Masih hangat di tempatyang ia tiduri.
Masih ada peluh tersisa di sana. “Cuma mimpi,” ulangnya lagi, kali ini lebih pelan.
“Cu—ma mim—pi.” Semakin diulang semakin terasa mengganjal. “Cuma mimpi?”
Hati Wati mengelak, menolak percaya dirinya sendiri. Semua yang terjadi terlalu jelas untuk disebut kebetulan.
Tatap matanya jatuh ke tangan kanan. Ada gurat hitam tipis di sana. Baru. Wati menyipitkan mata.
Ia ingat,kejadian di mimpinya tadi. Batu nisan yang tak sengaja ia pegang tadi. Nisan yang seharusnya…
Tidak nyata. Wati memejamkan mata. Ladang kering. Tanah yang menganga.
Enam makam. Burung jalak yang berubah jadi burung gagak. Dan suara peringatan...
Lari? Keringat dingin meleleh di pelipis hingga dagu. Satu lagi yang aneh. Wati mencobanya lagi, mengecap luka di tangan kirinya.
Manis. Ada rasa kayu manis dan... Teh buatan Bu Sinta. “Kenapa?” bisik Wati dalam hati. Terdengar curiga di antara helaan napasnya.
“Kenapa semuanya jadi saling berangkaian?” “KOWE SING DIKAREPNE…(KAMU YANG DIMAU).”
Kenapa aku? Siapa yang memilih? Apa maksud semua ini?
Sampai di pertanyaan terakhir, di antara ketegangan, menyerupa langit yang abu-abu.
Siapa sebenarnya Pak Cokro? (bersambung)