VILA itu berdiri angkuh di tengah hamparan pinus Gunung Lawu. Putih, besar, dan...... sangat senyap.
Dua lantai, bergaya kolonial, jendela-jendela tinggi dan kesemuanya ditutuptirai putih. Pintu kayunya tinggi, berukir simbol-simbol aneh yang belum pernah Wati temui.
Atapnya menjulang lancip, seolah menantang langit. Menatapnya saja membuat Wati menelan ludah.
Bukan karena megahnya, tapi.... Aneh. Sesuatu di dalam dirinya seolah menolak turun. Ingin pulang lagi ikut sopir.
Melarikan diri. Begitu mobil berhenti, Pak Cokro turun terlebih dulu dan tersenyum lebar. Ia merentangkan tangan menghirup napas panjang lega.
“Surga,” bisiknya di antara suara gangsir di kejauhan. Bu Sinta menyusul turun, langkahnya ringan, bibirnya bersenandung kecil. Arsi melompat turun sambil membuka kamera ponsel.
“Ya ampun aesthetic banget tempat ini. Ini villa yang baru kita beli itu, Pa?!"
“Iya dong sayang. Bagus nggak?” seloroh Pak Cokro. “Bagus banget. Berapa M harganya, Pa?” Kamera digeser Arsi, membawa papanya ke dalam layar.
“Tiga.” “Tiga M?” Arsi terbelalak. “Tiga trilliun, sayang.”
“Ck-ck-ck... Tiga trilliun guys....” ujar Arsi lagi ke kamera. Pamer. “Kalian penasaran nggak sih guys sama isinya? Rumah 3 trilliun! Yuk ikut Arsi ke dalam.”
“Ti, kamarmu di loteng ya. Tangga di kanan.” seru Bu Sinta. “Ini semua barang-barang beresin sekalian. Jangan ada yang ketinggalan!”
Lantas menyusul anak dan suaminya yang sudah lebih dulu melangkah masuk.
Meninggalkan Wati, membawa barang-barang mereka masuk. Sendirian.
Satu jam lebih baru selesai. Napas Wati terengah-engah, barang yang mereka bawa seperti tak ada habisnya.
Sesampainya di kamar, Wati berdiri di dekat jendela kecil. Dari sana terlihat pohon-pohon pinus berjajar seolah serempak menatap Wati balik.
Tak ada pemandangan lain selain hutan tanpa ujung. Hening. Mencekam. Sesak Mencekik.
Tiba-tiba, wajah ibunya terlintas di benak.
Dekapannya masih erat terasa. Suaranya yang memohon pagi tadi menyusul berulang di telinga.
"Mbok rasah budal, Nduk. (Tolong jangan berangkat, Nak.)" Wati mendekap dirinya sendiri. Tiba-tiba dadanya sesak.
Tapi untuk pertama kalinya, Wati menyesali keputusannya. (bersambung)
Editor : Nur Wachid