Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cerita Misteri Vila Angker Gunung Lawu Part 2, Sekelebat Bayangan Mengagetkan

Saestu Saget • Rabu, 16 April 2025 | 02:59 WIB
Cerita misteri vila angker Gunung Lawu.
Cerita misteri vila angker Gunung Lawu.

Wati Belum Tahu Cerita Misteri yang Berkembang tentang Vila Angker Gunung Lawu 

RUMAH Pak Cokro terletak di tengah kota. Besar, bercat krem gading, dengan pagar besi hitam setinggi lantai 1. Wati berdiri di samping tas kecil miliknya.

Ujung jilbabnya sedikit basah karena peluh. Berpamitan dengan Ibu tak pernah terasa seberat 15 menit yang lalu.

Kini semua yang ada di hadapan Wati berubah. Di sekitarnya beridiri 3 pembantu Pak Cokro lainnya.

Salah satunya, Mbak Ratmi, melipat tangan di dada. Matanya sinis, bibirnya memincing ke arah Wati.

"Cihh.. Baru dua bulan kerja, udah diajak liburan. Enak banget kamu, Ti. Pake pelet dari mana kamu?"

Nyinyiran Ratmi disusul tawa 2 pembantu lainnya. “Astaghfirullah..., Mbak Ratmi. Wati sebenarnya juga nggak boleh naik sama ibu. Ta—“

Belum sampai Wati menyelesaikan kalimatnya, pintu rumah terbuka. Bu Sinta muncul, berdandan glamor seperti biasa.

Rentangan perhiasan di pergelangan tangan, kalung dan anting mahal,make-up tebaltak lupa kacamata hitam besar.

“Rumah aku tinggal 3 hari. Jangan ada yang macam-macam kalian ya,” ucap Bu Sinta sambil menunjuk pembantu-pembantunya.

Kecuali Wati. Dari belakang, suara tumit sepatu menghentak lantai marmer. Arsi turun.

Arsi berjalan melenggak-lenggok, tubuhnya gemuk menggembung. Lehernya nyaris tenggelam di balik pipi dan dagu yang bersaing berebut tempat.

Arsi, si bungsu Pak Cokro. Usianya sebaya Wati. Sedang Sang Sulung bernama Alex. Sudah menikah dan kini disibukkan ekspansi toko bangunan mereka.

"Eh jongos! Jangan dekat-dekat koperku!” sergah Arsi saat Wati hendak membantu membawakan kopernya.“Tanganmu bau sabun colek. Najis!"

Kalimat pedas Arsi disusul tawa puas 3 pembantu lainnya. “Eh kita foto dulu yuk." Dari balik mobil Pak Cokro muncul.

Angin segar, bagi Wati, di keluarga ini hanya Pak Cokro yang baik. Satu-satunya orang yang masih memperlakukannya sebagai manusia.

Suara Pak Cokro seperti aba-aba. Tanpa kalimat susulan satu keluarga mengambil posisi.
Arsi di tengah diapit Pak Cokro dan Bu Sinta.

Sementara Wati? Dia di sebelah Pak Cokro. Berdiri mengambil jarak, tidak jauh—karena Pak Cokro pasti meminta Wati mendekat—tapi memperjelas kesenjangan di antara mereka.

“Satu... Dua... Ti...” ‘Cekrek’ Di lantai 2, ada sosok lain masuk kamera. Seekor burung jalak bertengger mengamati. Sekaligus menandai mereka. (bersambung) 

Editor : Nur Wachid
#gunung lawu #vila angker #cerita misteri