Cerita Misteri Jalur Pendakian Keramat Gunung Lawu Part 12
HARI berjalan sangat cepat. Sekarang adalah pagi ketiga sejak Alya hilang. Berita tentang kehilangannya menyebar begitu cepat menjadi trending topik di beberapa sosial media.
Ada yang mengirim ucapan ikut berduka. Tak sedikit juga yang menyalahkan Alya karena Gunung Lawu gunung keramat, bukan untuk pendaki yang masih coba-coba.
Tim pencari bekerja tanpa henti. Mereka menyisir hutan pagi hingga malam.
Di pos pendakian, Sarah, Reno, dan Dika setia menunggu kabar terbaru.
Wajah mereka dipenuhi kecemasan dan kelelahan. Setiap kali ada anggota tim pencari kembali ke posko, harapan mereka membuncah.
Sialnya hanya untuk kembali runtuh ketika tim pencari menggelengkan kepala, tanda Alya masih belum juga ditemukan.
Pagi itu, seorang kakek paruh baya datang menghampiri mereka.
Wajahnya penuh keriput, sorot matanya tajam seperti mengerti sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Dia mengenalkan diri sebagai Mbah Drajat, penduduk lokal yang telah lama tinggal di kaki Gunung Lawu.
Datang dengan kaki telanjang, kaos oblong hitam, celana kolor pendek, juga kain batik diikat sedemikian rupa membentuk blangkon menutupi kepala.
Aroma kemenyan mengiri kedatangannya.
Meski tampilannya aneh, tak seorang pun tim pencari atau keamanan menghalanginya melintasi garis polisi.
“Temanmu hilang sejak kapan?” tanyanya dengan suara dalam dan berat.
Sarah yang pertama menjawab, “Tiga hari lalu, Mbah.” Suaranya lirih, hampir berbisik.
Mbah Drajat tidak langsung merespons. Dia hanya mengangguk pelan.
“Di depan itu tasnya Alya?” tanyanya lagi.
Sekilas, Sarah dan Dika bertukar tatap.
“Nggih, Mbah. (Iya, Mbah)”
“Ada bau anyir.” Kepalanya menggeleng kecewa. “Dia tidak seharusnya ada di sini. Dia kurang ajar!” (bersambung)
Editor : Nur Wachid