Sepanjang jalur pendakian pos 3 Gunung Lawu, Alya mulai mencium bau anyir darah. Ia menghela napas panjang, agar temannya tak curiga.
Jawa Pos Radar Lawu - Pos 2 Gunung Lawu lewat, mereka tidak jadi makan lagi.
“Tanggung, pos 3 sekalian keburu malem.” Dika selaku pemimpin regu memberi komando yang segera disetujui 3 orang lainnya.
Keadaan yang membuat Alya terpaksa berjalan lagi dengan sesuatu yang mulai terasa mengalir pelan di pahanya.
“Untung pakai hitam jadi ga keliatan,” batin Alya.
Namun mau bagaimana pun, aroma tak bisa ditutupi. Alya mulai mencium aroma anyir darah.
Sejak saat itu ia mulai jadi pendiam. Tak ada lagi gurauan yang ia lempar. Hanya berjalan, sesekali meringis menahan nyeri perut luar biasa.
Malam mulai turun kala mereka tiba di Pos 3. Api unggun kecil menyala, memberi sedikit kehangatan di tengah udara gunung yang semakin menusuk.
Dan Alya baru bisa mengenakan pembalut. Sangat terlambat. Darah segar sudah membasahi celananya, tak ada air untuk membersihkannya.
Hanya tisu, pun Alya terpaksa mengenakan celananya yang berbekas darah lagi agar tak membuat teman-temannya curiga.
"Ini mie rebusnya, masih panas," Reno menyerahkan satu cup kepada Alya yang duduk bersila dengan jaket tertutup rapat.
Alya mengangguk, menerima dengan senyum tipis.
Baca Juga: Cerita Misteri Gunung Lawu: Jalak Lawu, Mata yang Mengawasi Part 16
Dika merapatkan jaketnya, menatap ke sekeliling. "Kenapa suasana Gunung Lawu malam ini jadi serem, ya?"
Sarah mendengus. "Jangan mulai lagi. Plis deh, gausah bikin parno deh."
Reno terkekeh. "Makanya jangan sering nonton film horor."
Sarah menyikut Alya. “Lu jangan diem aja sih, Al. Bikin makin parno deh.”
Alya cuma menghela napas panjang, tersenyum terpaksa, lantas menggeleng. Disusul suara burung jalak memekik keras.
Dalam diam, Reno, Sarah, Dika saling bertukar tatap.
Dalam diam, mereka seolah sepakat.
Ada yang tidak beres dengan Alya.
Dengan mereka. (bersambung)
Editor : Nur Wachid