Sarman dan Jarwo terjebak pada cerita misteri di Gunung Lawu. Mereka akhirnya sadar bahwa Jalak lawu yang menuntun mereka menemukan jalan keluar.
Jawa Pos Radar Lawu - Medan hutan Gunung Lawu yang beragam membuat langkah mereka semakin berat.
Matahari yang tadi masih malu-malu di ufuk timur kini garang, membakar kepala. Bayang-bayang pepohonan terasa menipis, udara makin pengap.
Air kedua yang diisi mereka sudah habis sejak tadi. Lapar menggerogoti perut.
Tubuh serasa bukan milik sendiri. Jangankan lari, berjalan saja rasanya melayang setengah kehilangan kesadaran.
Jarwo menyeret kakinya, hampir menyerah. “Man, kita beneran bakal mati di sini?”
Sarman tak menjawab. Kalau sebelumnya Sarman pasti akan memarahi Jarwo, kini ia tak sanggup.
Bibirnya pecah-pecah, suaranya tak bisa keluar. Di kepalanya hanya ada satu hal: keluar dari tempat terkutuk ini.
Langkah mereka terseret, tertatih.
Hingga… mereka berhenti. Di penghujung rasa putus asa mereka menerima kejutan.
Di depan mereka berdiri pohon beringin itu.
Pohon yang sama.
Pohon yang seharusnya sudah jauh di belakang.
Seharian berjalan, mereka hanya berputar di jalur yang sama.
Jarwo mengerang frustasi. Ia menjambak rambutnya, matanya liar mencari jawaban.
“EDAN! (GILA!) POHON SETAN INI LAGI LOH! POHON SIALAN! KITA SEHARIAN CUMA MUTER-MUTER DOANG. SETAN! SETAN!”
Sarman menghempaskan tubuhnya ke tanah, dada naik-turun menahan amarah dan keputusasaan.
Tapi kemudian…
Semak-semak bergoyang.
Keduanya terdiam.
Darah mereka berdesir, jantung berpacu lebih cepat.
Bayangan semalam kembali menghantui. Sosok itu muncul lagi? Siang bolong begini?
Suara kemerasak daun kering yang diinjak kaki terdengar semakin dekat.
Jarwo memejamkan mata. Sarman meraih batu di sampingnya, siap melawan apapun yang muncul dari sana.
Lalu—
“Lho? Sampeyan kenapa di sini?”
Suara itu manusiawi. Terlalu manusiawi.
“Pantes saya tadi dengar orang teriak-teriak.”
Di depan mereka, seorang pria tua berdiri. Ia membawa sabit dan gendongan rumput di punggungnya. Seorang pencari rumput.
Jarwo hampir menangis. Sarman mendadak lemas.
Tanpa ragu mereka mendekat, meminta tolong.
Sampai tak sadar di antara dahan beringin yang kokoh bertengger seekor burung jalak lawu. Ialah yang mengantar pencari rumput dari padang luas masuk ke hutan.
Begitulah bagaimana akhirnya mereka selamat. (tamat)
Editor : Nur Wachid