Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cerita Misteri Gunung Lawu: Jalak Lawu, Mata yang Mengawasi Part 5

Saestu Saget • Minggu, 6 April 2025 | 06:07 WIB

Sarman dan Jarwo melanjutkan perburuan di Gunung Lawu.
Sarman dan Jarwo melanjutkan perburuan di Gunung Lawu.

Tak ada keanehan terjadi sepanjang jalan menerobos jalur kiri Gunung Lawu. Sarman sedikit lega sebab sepanjang pandangannya menyebar, ia tak lagi menemukan burung jalak lawu.

Jawa Pos Radar Lawu - PERASAANNYA sedikit terhibur mendengar suara-suara burung dari jauh, persis di depan mereka.

“Kamu dengar ‘kan?” Jarwo menepuk dada. “Apa aku bilang, jalur kiri pasti lebih banyak burungnya.”

“Hehe.” Sarman hanya menyahuti pendek. 

Di pikirannya, ia hanya ingin dapat buruan—merasakan sensasi peluru yang ia tembakkan, lantas pulang. 

Dari awal Sarman sudah tidak menikmati perjalanannya kali ini.

Sarman masih terus merasa diintai. Entah oleh seseorang, atau sesuatu. 

Baginya teror burung jalak telah menggeser kesan Gunung Lawu dari menyenangkan, jadi menyeramkan.

Cahaya matahari menyorot masuk saat langkah mereka tiba di hadapan sungai kering. Lebarnya mungkin 3 meter, kedua ujungnya tak terlihat. 

Tanpa banyak bicara Jarwo melompat turun. Begitu memastikan Jarwo aman, Sarman ikut melompat turun.

Dasarnya tanah tandus, bebatuan kecil yang sebagian besar diselimuti daun kering. Seperti tak  pernah ada air mengalir di sini.

Jarwo berjongkok, meremas tanah di bawah kakinya. “Udah lama banget kering.”

Sarman mengamati sekeliling. Tak memedulikan Jarwo. 

Ia lebih pilih mengawasi sekitar, memastikan tak ada yang janggal.

“Huh, kayaknya kita harus misah.” kata Jarwo sambil kembali berdiri. “Biar lebih cepat dapet buruan.”

Sebelum mengangguk, Sarman sudah paham. Kanan dan kiri sungai sama-sama rimbun, tempat bertengger terbaik burung-burung buruan mereka.

Jarwo menepuk bahu Sarman. “Aku di kiri, kamu di kanan. Kita jalan sampai ujung.”

Mereka akhirnya berjalan bersisihan. Sungai kering jadi pembatas di antara mereka.

Jarwo dan Sarman mulai sibuk sendiri-sendiri. Mata mereka tidak lepas dari dahan-dahan dan ranting di atas kepala mereka. 

Suara-suara burung makin sering terdengar, sesekali berentatan. Namun selama perjalanan, tak terdengar satu pun tembakan dilepaskan.

Mereka seperti mengejar sesuatu yang amat dekat tapi tak terlihat.

Sarman menoleh ke kiri. Jarwo masih di sana.

Ia masih merasa dihantui perasaannya sendiri. 

“Nggak lucu kalau salah satu dari kita hilang,” gumamnya dalam hati. (bersambung)

 

Editor : Nur Wachid
#gunung lawu #cerita misteri #jalak lawu