Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cerita Misteri Gunung Lawu: Jalak Lawu, Mata yang Mengawasi Part 4

Saestu Saget • Minggu, 6 April 2025 | 05:43 WIB

Jalur Gunung Lawu yang mendadak berubah jadi persimpangan bukan dongeng belaka.
Jalur Gunung Lawu yang mendadak berubah jadi persimpangan bukan dongeng belaka.

Seperti cerita misteri jalur Gunung Lawu yang mendadak berubah menjadi persimpangan dan munculnya Jalak Lawu, kerap dijumpai pendaki berhati kotor. Kini, nyata bagi Sarman dan Jarwo. 

Jawa Pos Radar Lawu - “Halah, Gunung Lawu emang banyak burung jalak. Kamu kayak baru pertama kali ke sini aja sih,” sumbar Jarwo angkuh sembari menyimpan kembali senapan anginnya di punggung.

Hanya karena gengsi dibilang “cemen” Sarman lagi-lagi mengabaikan firasat buruknya. 

“Lanjut.” Jarwo melirik jam tangan. “Udah jam segini belum dapet apa-apa. Hadeh...”

Langkah kaki mereka kembali merunut jalan setapak. 

Kadar oksigen yang semakin tipis menyulitkan mereka bernapas. Bayang pepohonan yang menghalangi sinar matahari seperti membawa mereka masuk lebih jauh ke dalam dunia lain.

Setelah berjalan cukup lama, Sarman dan Jarwo akhirnya tiba di persimpangan. Di hadapan mereka, jalan setapak bercabang dua.

Jalur kanan tampak familiar—jalan yang selalu mereka lewati setiap kali berburu. Sedangkan jalur kiri terlihat lebih rimbun, lebih asing, dan entah mengapa Sarman merasa lebih gelap.

“Kanan.” Sarman menunjuk. “Medan Gunung Lawu kanan yang biasanya. Nggak usah aneh-aneh, aku males ketemu burung jalak lagi.”

Jarwo menggeleng cepat. “Alah! Tiap kali kita lewat kanan, hasilnya dikit. Sekali-kali coba kiri. Bisa jadi lebih banyak burung.”

Sarman mengernyit, sengit. “Kita nggak tahu jalur kiri, Wo.”

“Justru itu!” Jarwo ngotot. “Siapa tahu lebih banyak burungnya, cuan-cuan!!.”

Perdebatan mereka berlangsung cukup lama. Sarman bersikeras untuk tetap di jalur kanan, sedang Jarwo kekeuh mencoba sesuatu yang baru.

Akhirnya, dengan berat hati, Sarman mengalah. 

“Oke, oke. Kita coba jalur kiri. Tapi kalau ada yang aneh, kita balik, deal? Daripada kesasar.”

Jarwo tertawa kecil. “Santai, Man. Gunung Lawu udah kayak pelataran rumah bagiku, nggak mungkin ada aneh-aneh, apalagi kesasar.”

Saat mereka mulai melangkah ke jalur kiri, angin berembus lebih dingin. 

Suasana seram mengepung. Dedaunan terasa lebih rapat dari sebelumnya.

Sejauh ini Sarman tak mendengar satu pun suara burung. Justru kata “kesasar” yang terus berulang menggema di telinganya. 

Dan tanpa mereka sadari, seekor burung jalak masih mengikuti. (bersambung)

Editor : Nur Wachid
#gunung lawu #cerita misteri #jalak lawu