Cerita Misteri Gunung Lawu: Jalak Lawu, Mata yang Mengawasi Part 2
Saestu Saget• Minggu, 6 April 2025 | 03:35 WIB
Jalak Lawu, cerita misteri di Gunung Lawu.
Sarman merasakan keanehan berulang di Gunung Lawu. Seperti ada mata yang selalu mengintai dan mengawasi setiap geraknya dari kegelapan.
Jawa Pos Radar Lawu - PADAHAL, Gunung Lawu bukan rute asing bagi Sarman yang hobi berburu burung. Ia juga sudah tidak heran didatangi burung jalak di hutan Gunung Lawu, hanya saja kali ini rasanya beda.
“Siap?” Jarwo, rekan berburu Sarman akhirnya menunjukkan batang hidung.
Sarman mengangguk. Mana mungkin menggeleng hanya karena firasat buruk atau kepalanya yang hampir ditampar sepasang sayap burung.
"Tumben sunyi banget ya," ujar Sarman. Kakinya melangkah mengekor Jarwo di depan.
Jarwo terkekeh, hampir tersedak asap rokoknya sendiri. “Namanya juga di hutan, Man. Ono-ono wae koe ki hahaha. (Ada-ada aja kamu tuh Hahaha.)”
“Tapi ini nggak kayak biasanya, Wo.” Sarman berusaha mengusir suasana mencekam yang menyelimutinya dengan memompa senapan.
“Tanda bagus.” Jari menyeringai, menyikut Sarman. “Jadi gampang dengerin suara murai sama kacer. Lagi bagus harganya, Man.”
Sarman geleng-geleng kepala, tak lagi menyahuti. Matanya beredar, Gunung lawu tempatnya menyalurkan hobi terasa berbeda sejak bertemu burung jalak lawu tadi.
Semakin bergerak lebih dalam ke hutan semakin kuat perasan tidak enak yang Sarman rasakan.
Udara terasa lebih dingin, daun-daun rindang dan pohon-pohon besar mengisolasi mereka dari dunia luar, dari sadar tak sadar.
Tiba-tiba, "Braak!"
Sebuah ranting segar jatuh menghalangi jalan mereka.
Sarman reflek mengarahkan senapan ke atas, matanya menyipit, takut ada kera atau hewan liar di atas mereka.
Tapi nihil, bahkan bekas patahannya pun tak ada. Dahan sebesar lengan di depan mereka seperti bukan berasal dari pohon di atas mereka persis.
Sarman menatap Jarwo, tatapannya menyiratkan keganjilan.
“Hahaha, cuma dahan, Man. Takut?” sumbar Jarwo lagi.
Sarman meneguk ludah. Ia tak mau terlihat penakut, tapi instingnya berkata mereka sedang diawasi.
"Lanjut ah. Apa si." kata Jarwo lantas membuang dahan di hadapannya hanya dengan satu ayunan.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Jarwo bertugas membuka jalan, sedang Sarman mengamati sekitar.
Mungkin baru beberapa ratus meter. Sepasang kaki Sarman berhenti, buru-buru menarik lengan Jarwo.