Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Matkodir: Ambisi yang Dibawa Mati

Nur Wachid • Minggu, 27 Oktober 2024 | 18:34 WIB

Ilustrasi. (AI-GENERATED/CHATGPT)
Ilustrasi. (AI-GENERATED/CHATGPT)

Cerpen Rusmin Sopian

SEMENJAK berhembus kabar burung yang menarasikan namanya masuk dalam daftar Kabinet diberbagai media massa dan media sosial, seketika perubahan terjadi pada diri Matkodir dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat Kampung.

Pria berbadan tambun yang biasa di sapa warga dengan panggilan Pak Kodir itu dan menjabat sebagai salah satu Ketua organisasi ini tiba-tiba berubah total.

Padahal sebelum kabar burung yang menarasikan dirinya sebagai Calon Menteri, Pak Kodir dikenal warga sebagai sosok yang sederhana dan ramah terhadap para warga sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Bukan hanya ramah, Matkodir dikenal pula sebagai warga yang dermawan. Sudah banyak warga Kampung yang dibantunya. Mulai dari warga yang sakit hingga pembayaran biaya sekolah anak para warga Kampung.

Bahkan rumahnya yang mewah dan besar itu kerap kali digunakan warga Kampung untuk bermusyawarah bila ada persoalan yang penting. Maklum di Kampung itu tidak ada ruang pertemuan yang memadai dan layak.

Bagi penduduk Kampung, Matkodir ibarat penolong mereka. Selalu membantu kaum lemah. Selalu menguatkan kaum marginal.

"Jangan dilihat nilainya. Semoga bermanfaat untuk kehidupan bapak dan ibu sekalian," ucapnya saat membantu warga Kampung.

"Dan jangan segan-segan untuk datang bila ada keperluan. Insya Allah, saya akan membantu walaupun ala kadarnya," lanjutnya dengan wajah berbungkus senyuman kepada warga yang datang ke rumahnya.

Tidak heran bila semua warga Kampung hormat kepada Matkodir.
" Seandainya semua pemimpin seperti Pak Kodir, sungguh bahagia warganya, " puji para warga.

Jabatan tinggi kadang kala membuat orang lupa daratan. Lupa pada kehidupan yang hakiki. Lupa segalanya.

Jabatan terkadang membuat orang menjadi tinggi hati. Lupa diri. Bahkan melupakan hakikat dirinya sendiri sebagai manusia.

Kini, usai namanya disebut-sebut sebagai calon Menteri pada pemerintahan mendatang yang akan diumumkan Presiden, Matkodir lebih banyak berada di Kota ketimbang tempat tinggalnya yang berada di Kampung. Kalau pun pulang ke rumahnya di Kampung sudah larut malam. Saat warga Kampung tengah bermimpi. Dan pagi-pagi kembali berangkat ke Kota.

Baca Juga: Sederet Aktivitas Seru di Blitar Fantasy World, Wisata Keluarga Favorit di Kota Blitar

Demikian pula dalam pergaulan sehari-hari di Kampung, pria setengah baya itu mulai menjaga jarak dengan para warga Kampung.

Beberapa orang berbadan besar kini selalu mendampingi Matkodir dalam beraktivitas. Orang-orang yang selalu memakai baju safari hitam itu selalu berada di dekat Matkodir.

Matkodir yang biasa sering nongkrong di Pos ronda bersama warga, kini tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya.

Saat kebagian jatah ronda, Matkodir mengutus anak buahnya.
" Bapak sedang rapat di Kota," jelas utusan Matkodir saat ditanya warga.

Demikian pula bila ada kondangan warga, istrinya yang sering datang.
" Bapak sedang rapat di Kota," jawab istrinya saat warga menanyakan keberadaan Matkodir suaminya.

Tak pelak perubahan drastis 180 derajat yang ditunjukan Pak Kodir sapaan akrabnya, membuat para tetangga dan kolega di Kampung bertanya-tanya.

" Saya heran dengan perubahan sikap Pak Kodir akhir-akhir ini. Kok tak seperti biasanya. Ramah dan bersahaja,"ujar Mang Roy saat mereka sedang berkumpul di warung kopi Mang Jojon.
"Mang Roy ini ternyata selalu ketinggalan informasi.Ini akibatnya kalau jarang baca koran dan melihat tipi. Makanya jangan sibuk nyari fulus. Sekali-kali baca koran," terang Mang Tahar.

"Apa Mang Roy belum dengar kabar burung bahwa Pak Kodir akan diangkat jadi Menteri," tanya Mang No.

" Sudah. Saya sudah dengar kabar burung itu. Pertanyaannya, apakah dengan menjadi Menteri, Pak Kodir harus berubah dan merubah dirinya,"tanya Mang Roy.
" Betul. Seharusnya saat mengemban amanah justru harus dekat dengan rakyat. Bukan malah menjauhi warga," Seorang warga ikut bersuara.

Semua yang ada diwarung kopi Mang Jojon terdiam seribu bahasa mendengar suara dari warga. Tak ada yang berbicara lagi.

Seketika warung Mang Jojon sepi. Hening. Semuanya membisu. Seiring kopi dalam gelas yang mulai terasa dingin. Bahkan terasa hambar di lidah para penikmat kopi di warung Mang Jojon.

Perubahan sikap yang diperlihatkan Pak Kodir terjadi pula saat sholat berjamaah di masjid. Pak Kodir kini selalu tampil di saf paling depan. Selalu dibelakang Imam.

Dan usai sholat Pak Kodir langsung pergi meninggalkan masjid.Tak ada lagi waktu untuk berbasa-basi dengan para jemaah masjid seperti biasanya yang menjadi kebiasaannya selama menjadi warga Kampung.

Warga kampung mengenal Pak Kodir sebagai warga yang baik, ramah, bersahaja dan pemurah.

Nama Matkodir kembali menjadi buah bibir di masyarakat, tatkala dalam sebuah berita di televisi, dirinya terlihat datang ke istana bersama dengan para petinggi organisasi tempatnya bernaung.

" Alhamdulillah, kalau Allah menghendaki akan ada warga Kampung kita yang akan menjadi Menteri. Dan kita sebagai jemaah masjid dan warga Kampung wajib bersyukur dan berbahagia,"ujar Ketua majid kepada para jemaah usai sholat isya.

" Apakah setiap petinggi organisasi ke istana akan menjadi Menteri,Pak Ustad,"tanya Mang Tasan.

"Memang tidak selalu.Tapi sebagai warga Kampung kita bangga dan ikut bahagia kan kalau ada warga kita yang menjadi Menteri. Makanya kita harus selalu berdoa agar Pak Kodir bisa diangkat Presiden sebagai Menteri," jawab Pak Ustad.

Seminggu menjelang pengumuman nama Menteri oleh Presiden, kesibukan dirumah Matkodir mulai tampak ramai dan sibuk.

Mobil-mobil mewah berseliweran dan datang silih berganti menuju rumah Matkodir yang terletak diujung kampung. Kesibukan di rumah mewah Matkodir pun bertambah seiring dengan makin dekatnya waktu pengumuman nama menteri oleh Presiden.

Rumahnya dipercantik. Kesibukan terlihat di kediamannya yang besar dan mewah.

Demikian pula dengan pengamanan disekitar rumah Matkodir pun ditingkatkan. Para Hansip Kampung dibantu kader organisasi terus menjaga rumah Matkodir selama 24 jam.

Dan setiap tamu yang datang, harus mengisi buku tamu. Sebuah kebiasaan baru tentunya bagi warga kampung.

"Sekarang kita kalau mau ke rumah Pak Kodir harus ngisi buku tamu," cerita Seorang warga Kampung.

"Maklumlah, ke rumah calon Menteri. Ada aturannya. Beda kalau kita berkunjung ke rumah orang biasa," jawab warga Kampung yang lainnya.

"Dan belum tentu pula bisa bertemu Pak Kodir," sambung warga yang lainnya.

Tengah malam menjelang pengumuman nama Menteri, tiba-tiba kehebohan terjadi dirumah Matkodir. Suara teriakan bergema. Ramaikan malam yang tenang.

Suara sirene mobil Ambulan yang datang ditengah malam buta, tentu saja mengejutkan para warga Kampung yang sedang asyik masyuk di peraduan dan bermimpi tentang masa depan.

Terlihat para hansip dan kader organisasi sedang menggotong badan tambun Matkodir ke dalam mobil ambulans.

Dalam hitungan detik, mobil ambulans itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Kampung menuju ke rumah sakit dengan dikawal para kader organisasi tempat Matkodir bernaung.

Pagi harinya, menjelang pengumuman nama Menteri oleh Presiden di istana, secara mengejutkan ada kabar duka yang datang menembus telinga warga Kampung yang menyatakan bahwa Matkodir dinyatakan meninggal dunia yang disampaikan melalui pengeras suara masjid.

"Innalilahi wa Innailaihi Roji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah, warga Kampung kita yang bernama Matkodir dalam usia 55 tahun,"

"Sakitnya kok mendadak," tanya seorang warga Kampung.

"Serangan jantung," cerita seorang warga kepada warga Kampung lainnya.

Kalimat Innalillahi Wa innalilahi Rojiun pun meluncur dari para warga kampung. Semesta menghitam.

Para awak media televisi dan cetak pun tak kalah gesit. Meramaikan kampung dan rumah Matkodir. Bahkan ada yang melakukan siaran langsung dari halaman rumah Matkodir.

"Dari berbagai informasi yang kami dapatkan dari berbagai narasumber, Matkodir petinggi partai meninggal karena namanya tak ada dalam daftar nama-nama Menteri yang akan diumumkan Presiden sore nanti. Demikian informasi ini kami sampaikan.
Dari rumah duka, Matyusuf melaporkan untuk Media Kabar Burung.

Sementara di Istana Negara, para menteri sedang mengucapkan sumpah jabatan yang dipimpin langsung oleh Presiden.

"Kami bersumpah. Akan menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggungjawab,"

Toboali, 27 Oktober 2024


Penulis. Rusmin Sopian
Alamat Jln Suhaili Toha No 56 Toboali
Nomor kontak. ; 082175278229

Rusmin Sopian adalah Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Kabupaten Bangka Selatan.

Rusmin Sopian dikenal pula sebagai penggiat literasi Toboali Bangka Selatan dan telah melahirkan beberapa buku kumpulan cerpen.

Diantaranya Mereka Bilang Ayahku Koruptor dan Penjaga Makam yang diterbitkan oleh penerbit Galuh Patria Jogjakarta.

Sekarang Rusmin Sopian tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik.

Photo
Photo
Editor : Nur Wachid
#Toboali #cerpen #Rusmin Sopian #GPMB #bangka selatan