PERTANYAAN itu membuat perasaan Hamdan campur aduk. Bahagia dan merinding dirasa bersamaan.
Dia ingat betul bahwa Sarah telah meninggal beberapa tahun lalu. Namun, perempuan yang amat dia cinta itu ada di depan matanya.
Suasana menjadi sarat misteri. Bersamaan dengan itu, cerita asmara yang telah lalu kembali bermekaran.
''Aku sangat mencintaimu Sarah. Mengapa kau nekat mengakhiri hidupmu?'' ujar Hamdan sesaat setelah memeluk erat perempuan bersorot mata tajam itu.
Kini, giliran mulut Sarah yang terkunci rapat-rapat.
Perempuan asal Surabaya itu tercenung dengan kejuruan pemuda asli salah satu dusun di kaki Gunung Lawu tersebut.
Air mata Sarah bertetesan.
''Harusnya kau katakan semua sejak dulu,'' ucap Sarah terisak-isak.
Hamdan enggan melepas pelukan.
Dia tak lagi ingin kehilangan perempuan pujaan hati.
Mata Hamdan terus terpejam berjam-jam.
Sarah mencoba memundurkan badan.
Namun, niat melepas pelukan itu dibalas dekapan yang kian kuat dari Hamdan.
''Sudah Hamdan, aku akan kembali. Setidaknya, kita sekarang tahu perasaan dan isi hati masing-masing,'' tutur Sarah.
Sejurus kemudian, Sarah menghilang dari dekapan.
Hamdan kini memeluk tubuhnya sendiri.
Kisah asmara pemuda itu tak berubah. Dadanya tetap dipenuhi rasa menyesal.
Hamdan membuka mata.
''Tadi itu nyata, bukan mimpi,'' gumam Hamdan.
Foto perempuan dengan baju bermotif kembang-kambang dipandanginya. (*)
*)Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan