RUANG kerja Hamdan pagi itu kelewat berisik. Teman sebelah kiri menyetel lagu-lagu era 2000-an. Yang sebelah kanan memutar video cerita nabi-nabi, maklum belum lama mualaf.
Teman di depan, mendengarkan kisah misteri. Sementara teman di ujung ruangan, tepat di bawah AC, menyimak serius video pagelaran wayang kulit.
Mati nista iku contone bunuh diri, arwahe menggon neng wit utawa watu gede, pendak bengi tartamtu dijaluki wangsit. (Mati nista itu contohnya bunuh diri, arwahnya bersemayam di pohon atau batu besar, saat malam tertentu dimintai wangsit).
Hamdan seketika terhenyak saat mendengar ucapan tokoh wayang dalam video yang ditonton salah seorang temannya itu.
Dia teringat Sarah. Sosok perempuan yang amat dicintainya sewaktu kuliah.
Hamdan seorang pria dari salah satu desa di kaki Gunung Lawu. Tak jauh dari wisata Telaga Sarangan.
Dia kuliah di salah satu universitas ternama di Surabaya.
Dahulu, rute pulang pergi dari wilayah pegunungan yang sarat wisata alam ke kota besar jadi rutinitasnya.
Dari daerah dengan udara yang sejuk ke kawasan industri atau sebaliknya.
Itu sudah biasa baginya. Setidaknya, selama kurang lebih empat tahun kuliah di Kota Pahlawan.
Sewaktu kuliah, Hamdan punya banyak teman.
Salah satunya bernama Sarah.
Bagi Hamdan, gadis kota itu merupakan sosok penuh misteri.
Di kampus, Sarah dikenal sebagai mahasiswi pemalu dan pendiam.
Namun, itulah yang membuat Hamdan jatuh hati.
Singkat cerita, Hamdan jadi akrab dengan Sarah.
Dia berniat mengutarakan isi hatinya kepada Sarah.
Kisah asmara Hamdan serupa telenovela.
Suatu malam, Hamdan berpapasan dengan Sarah bersama pemuda lain.
''Kenalkan, ini pacar saya,'' kata Sarah kepada Hamdan.
Ibarat piring, hati Hamdan kala itu hancur berkeping-keping.
Seperti piring yang dibanting istri karena suami keranjingan mancing.
''Sarah, mungkin pusaramu di Surabaya sudah penuh rerumputan. Andai dulu saat masih mahasiswa aku berani merebutmu, bukan tak mungkin senyummu yang manis itu masih bisa kulihat,'' gumam Hamdan di tengah kebisingan ruang kerjanya. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan