NIAT Sakat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) tak terbendung. Pemuda 20 tahun asal salah satu dusun di kaki Gunung Lawu itu daftar seleksi CPNS 2024.
Dia ingin masuk dinas yang mengurusi pariwisata. Maklum, wilayah tempat tinggalnya tak jauh dari wisata Telaga Sarangan.
Kendati masih baru mendaftar, belum masuk tahap seleksi administrasi, Sakat sudah berkhayal.
Dia membayangkan empuknya duduk di kursi kantor, menghadap layar monitor.
Sakat yang kala itu duduk di kursi rotan reyot, senyum-senyum sendiri.
Kakinya menyilang.
Berupa-rupa aktivitas kantor yang serba enak memenuhi kepalanya.
Puncaknya, dia berkhayal mampu memberangkatkan ibunya umrah.
Bersamaan dengan itu, bibir Sakat semakin melebar sarat kebahagiaan.
Lamunan Sakat buyar saat seroang pengantar paket berhenti di depan rumahnya.
Usai memarkir motor, si pengantar paket menghampirinya dan menanyakan sebuah alamat.
''Desanya benar di sini, tapi kok saya belum pernah dengar nama seperti tujuan paket ini, jadi bingung,'' ujar Sakat.
Si pengantar paket garuk-garuk kepala.
Ibu Sakat keluar dari dapur lalu bertanya tentang apa yang sedang terjadi.
Setelah paham, emak-emak itu langsung menjelaskan arah tujuan paket kepada si pengantar.
''Penerima paket itu siapa, Bu? Alamat yang ibu jelaskan tadi menuju balai desa,'' tanya Sakat.
''Sssstt, tidak usah banyak tanya. Ini misteri. Banyak cerita paket datang ke alamat dan pemesan itu. Yang jelas sekarang, urus saja seleksi CPNS 2024 yang kamu ikuti itu,'' ibu Sakat nerocos.
Sakat cuma bisa diam mendengar penjelasan ibunya.
Namun, pemuda kaki Gunung Lawu itu malah penasaran.
Tanda tanya besar muncul di kepala Sakat.
Terutama tentang kata misteri, paket, dan pemesan, yang diucap ibunya. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan