PESANAN kayu bakar petang itu tidak benar-benar membuat bahagia Kakek.
Sebab, pria 60 tahun yang hidup sendirian di kawasan kaki Gunung Lawu, tak jauh dari kawasan wisata Telaga Sarangan, itu tak punya banyak waktu memenuhi pesanan.
Pesanan datang petang, besoknya sebelum tengah hari harus tersedia.
Padahal pesanan tergolong banyak, 10 ikat kayu bakar.
Sebenarnya ada stok lima ikat.
Tertumpuk di halaman rumah kakek.
Namun, mencari lima ikat kayu bakar dengan waktu sesingkat itu bukan perkara gampang.
Apalagi, si pemesan bilang kalau kayu harus kualitas bagus.
Tentunya, dengan janji upah yang lebih ketimbang biasanya.
Ada tambahan Rp 5 ribu per ikat kayu bakar.
Kendati berat, toples tempat kopi dan gula yang melompong mendesak Kakek mengiyakan pesanan itu.
Sebagai konsekuensi, dia harus berangkat ke hutan di Gunung Lawu petang itu juga.
Bermalam di dalam hutan, paginya turun.
Kakek menuju hutan dengan jalan kaki dan menarik becak Lawu.
Sebuah kendaraan tradisional yang biasa dipakai warga kaki Gunung Lawu untuk mengangkut berbagai barang.
Biasanya untuk membawa kayu bakar dan rumput pakan ternak.
Setelah beberapa saat berjalan, kini Kakek sampai di kawasan wisata Telaga Sarangan.
Beberapa kenalan dijumpai.
Semua menyarankan agar Kakek mencari kayu bakar saat pagi.
Terakhir, dia mendapati teman yang membuatnya bergidik.
Karib Kakek sewaktu masih muda.
Seorang karib itu telah meninggal dua tahun sebelumnya.
Mendiang merupakan rekan sesama pencari kayu.
Beberapa saat Kakek tercenung dengan apa yang ditangkap matanya.
‘’Karpo (nama asli Kakek), hati-hati,’’ ujar karib Kakek itu. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan