KALAU tuan dan nyonya datang 20 tahun lalu, kondisi desa kami tak ramai orang seperti ini.
Banyak kejadian misteri, horor, aneh, dan tak masuk akal, di sini.
Desa di kaki Gunung Lawu ini sekarang menjadi jujukan wisata.
Tradisi dan budaya warga dijadikan magnet penyedot pendapatan daerah.
Sejatinya kami tak peduli itu.
Para penduduk tetap asyik menggarap sawah dan ladang.
Beberapa memilih berdagang.
Desa kami dilanda pagebluk.
Sepetak lahan padi yang biasa menghasilkan 13 karung gabah, kini tak sampai separonya.
Orang-orang dusun percaya, monumen sangat besar yang dibanguan pemerintah jadi biang.
Bukan perkara ukuran, namun lokasinya.
Sejatinya, sesepuh sudah melarang.
Namun, yang punya niat tak acuh terhadap larangan sesepuh.
Pemerintah ngotot dengan berbagai pertimbangan.
Seperti, lokasi dianggap strategis.
Langsung terlihat wisatawan sesaat setelah beli karcis masuk.
Kemudian, struktur tanah lokasi yang kuat.
Itu jadi pertimbangan keawetan munomen.
Walhasil, larangan tak digubris.
Berdirilah sebuah monumen wisata di atas area sakral.
Kawasan yang dahulu menjadi tempat para leluhur bersemedi.
Bukan sembarang bertapa, melainkan memunajatkan diri ke Yang Maha Kuasa.
Kini, warga desa menanggung akibat buruk pembangunan monumen.
Pagebluk semakin hari semakin parah.
Cuma terjadi di desa kami, kawasan di bawah kaki Gunung Lawu yang sekarang jadi desa wisata.
Bahkan, tak sedikit kejadian orang mendadak sakit saat pagi lalu meninggal sore harinya. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan