KEMERIAHAN malam puncak peringatan Kemerdekaan RI di salah satu dusun di kaki Gunung Lawu berubah mencekam.
Itu setelah Pak Kades memanggil nama Agus sebagai juara lomba balap karung anak-anak.
Jadwal penyerahan hadiah itu menjadi momen tak masuk akal.
Orang-orang dusun yang hadir merinding.
Seluruh mata mendapati seorang bocah dengan kaos berlumuran darah berjalan menuju panggung.
Warga menyimak dengan teliti langkah demi langkah bocah itu.
Kaki kirinya seperti diseret.
Sampai di atas panggung, Agus mengulurkan tangannya ke arah Pak Kades.
Kepala desa berkopiah hitam itu bengong beberapa saat.
Beberapa kali Pak Kades melempar muka ke arah warga dengan mata penuh tanda tanya.
Tak satupun dari puluhan warga mengerti maksud uluran tangan Agus.
Pak Kades masih mencoba menerka-nerka.
Dengan dingin, Agus meraih mic di genggaman kepala desa yang sudah dua periode menjabat itu.
Barang elektronik berwarna hitam itu kini berpindah tangan.
Dari Pak Kades ke seorang bocah yang tak satupun orang mengenalinya itu.
Sejurus kemudian, Agus menatap satu per satu warga.
Tak sepasang mata pun luput dari tatapan Agus yang sarat misteri.
Hanya kepada anak-anak seusianya Agus tersenyum.
Malam puncak peringatan Kemerdekaan RI di salah satu dusun di kaki Gunung Lawu itu kini benar-benar mencekam.
Udara tiba-tiba menjadi terlampau dingin. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan