BERKALI ulang Anom ditumpangi sosok perempuan serba putih.
Semuanya, terjadi di tanjakan Ngwolo.
Hingga kali terakhir, pada beberapa hari yang lalu.
Tepatnya, ketika topinya tertinggal di tepi Telaga Sarangan.
Suatu ketika, Anom menjemput ibunya seperti biasa.
Rutinitas itu berjalan lancar tanpa pengalaman mistis.
Sebab, berangkat dan pulang menjemput ibu kala itu, dia melewati jalur baru.
Namun, topi kesayanganya tertinggal di tepi telaga.
Topi pemberian ayah sesaat sebelum berangkat ke Taiwan sebagai pekerja migran.
Benda yang amat berarti baginya.
Benda yang menuntunnya kembali ke wisata andalan di kaki gunung Lawu itu.
Malam-malam untuk sekadar mengambil topi.
Saat itu sedang musim penghujan.
Hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Magetan.
Ibu Anom sudah lelap di depan televisi.
Sementara Anom, menanti hujan berhenti.
Yang dinanti datang, Anom memacu kuda besinya kendati masih gerimis.
Tak dinyana, jalur baru longsor.
Lokasinya di atas Telaga Wahyu.
Anom tak mungkin menerjang material longsoran.
Dalam perjalanan putar balik, dia dijalari rasa bimbang.
Kalau nekat lewat tanjakan Ngwolo, dia waswas kejadian seperti sebelum-sebelumnya terulang.
Jika tidak, tidak ada pilihan lagi.
Dengan kata lain, Anom harus merelakan topi sarat kenangan itu.
Dia memutuskan lewat jalur lama dengan segala risikonya. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan