SESUAI pemberitahuan yang didengar, kali pertama Anom ditumpangi perempuan serba putih, ketika pertama kali menjemput ibunya.
Diawali pesan ibu yang minta dijemput agak malam ketimbang biasanya.
Sebab, ada musyawarah paguyuban pedagang keliling di Sarangan.
Buntut gaduh rencana pemerintah daerah setempat melarang pedagang keliling di wisata penyokong PAD terbesar itu.
Tak ingin ibunya menunggu, Anom berangkat ketika langit ujung barat kemerah-merahan.
Padahal, ibunya minta dijemput sekitar pukul 20.00.
Sementara jarak tempuh desa tempat tinggal Anom ke Telaga Sarangan tak begitu jauh.
Bermotoran santai, cuma 15 menit.
Bisa berkurang lima menit jika lewat tanjakan Ngwolo.
Dasar anak muda, sejatinya bukan karena ibu alasan Anom seperti itu.
Tapi, agar bisa berlama-lama memelototi beraneka model gadis di lokasi wisata masuk wilayah Kabupaten Magetan itu.
Mulai yang berhijab, sampai yang berpakaian kelewat ketat.
Motor Honda GL modif-an digeber.
Anom ambil jalan pintas menuju wisata andalan di kaki Gunung Lawu itu.
Tanjakan Ngwolo dipilihnya.
Di tikungan pertama, Anom nyaris gagal nanjak.
Beruntung kakinya cekatan oper gigi, dari tiga langsung ke satu.
Kini, laju motor Anom bak merayap.
Semetara langit menjadi semakin kemerah-merahan.
Bersamaan dengan itu, azan Maghrib berkumandang.
Di momen inilah, Anom mengawali kisahnya sebagai langganan ditumpangi perempuan serba putih.
Itu dimulai saat Anom diberhentikan seorang tua berkopiah hitam.
Setelah bertanya tujuan, Anom diminta putar balik tanpa alasan yang jelas.
''Setidaknya, kau berhenti sejenak,'' ujar seorang tua.
''Memangnga ada apa, Mbah?'' tanya Anom.
''Supaya yang di belakangmu turun. Kalau sampai ujung tanjakan masih di atas motormu, dia akan terus mengikutimu,'' terang seorang tua.
''Jika kau mau dan sudah menuruti saranku, jangan lagi lewat tanjakan ini ketika langit merah di waktu Maghrib,'' lanjutnya.
Konon, waktu Maghrib adalah saat perempuan serba putih menampakkan sosoknya.
Anom tak ambil pusing.
Dia cuma mengangguk kepada seorang tua berkopiah hitam itu.
Anom lantas meneruskan perjalanan melewati tanjakan Ngwolo. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan