TINGGAL dua menit lagi.
Badis hampir menyelesaikan pantangan wasiat dari sang bapak.
Bersamaan dengan itu, wujud Gunung Lawu berubah di mata Badis.
Pandangannya menangkap seraut wajah pria.
Pria dengan rambut belah pinggir, sisi kanan lebih dominan.
‘’Bapak,’’ ujar Badis.
Saat mulut Badis mengucap kata itu, matanya turut berkedip.
Tubuhnya roboh ke arah depan.
Momen Badis melihat sosok yang sangat dikaguminya itu terjadi amat cepat.
Alhasil, pantangan tak terselesaikan.
‘’Tolong hambamu ini, Tuhan,’’ keluh Badis yang tersungkur.
Sejurus kemudian, telinga Badis nyaris pecah.
Itu akibat suara gelegar yang didengar.
Suara yang terlampau keras itu membuatnya pingsan.
Sesaat sebelum matanya tertutup, samar-samar dia melihat kobaran api di gunung.
Selanjutnya, terbit surat kabar dengan headline, Tujuh Pendaki Lawu Tewas. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan