BERUPA-RUPA jenis wasiat. Tak terkecuali yang bermodel pantangan.
Wasiat seperti itu kerap membuat yang diwasiati gundah, risau, dan penasaran.
Lebih-lebih, si pemberi wasiat tak memberi penjelasan gamblang mengenai wasiatnya.
Saat ditanya mengapa, dijawab bahwa itu merupakan warisan leluhur.
Hal semacam itu dialami tokoh utama dalam cerita ini, Badis.
Seorang pria yang tinggal di kaki Gunung Lawu, yang sampai mati dijalari misteri wasiat dari bapaknya.
Suatu malam, berkali ulang Badis melihat tikus berlarian di perkayuan atap rumah.
Sebanyak itu pula dia menggedor-gedor lemari.
Baca Juga: Usai Gugat Cerai, Kimberly Ryder Laporkan Suami ke Polisi, Dugaan Kasus Penggelapan Mobil
Satu kali tikus berlari, dua sampai tiga kali telapak tangannya mendarat ke perabot rumah tangga berbahan jati itu.
Si binatang pengerat tak menggubris gedoran.
Pria 37 tahun yang sedang berbaring di dipan itu dongkol hatinya.
Dia lantas ganti posisi, miring menghadap tembok tanpa plester, membelakangi pintu kamar tidur.
Suara pengusir tikus yang tak manjur itu tak lagi terdengar.
Badis pasrah melewati malam ditemani tikus-tikus yang berkejaran.
Dia berusaha keras menahan matanya tetap tertutup.
Alih-alih bisa segera tidur, Badis malah teringat pesan mendiang ayahnya.
Sosok pria yang amat dia kagumi.
Badis benar-benar ingin menjadi seperti ayahnya, dalam hal apapun.
Bahkan, sampai cara menyisir rambut almarhum ditirunya.
Model belah samping. Bagian kanan lebih dominan.
Baca Juga: 'Tembok Rahasia' di Balik Transaksi Narkoba Kampung Boncos, Ini Hasil Penggerebekan Polisi
Perlu diketahui, metode mengusir tikus dengan menggedor lemari yang diterapkan Badis merupakan warisan ayah.
Cara yang sama-sama tidak mempan saat diterapkan oleh dua manusia itu.
''Bapak, mengapa kau melarangku berlama-lama menatap gunung?'' kata lelaki bujang yang masih menghadap tembok, yang susah tidur lalu teringat pesan bernuansa pantangan dari ayahnya itu.
''Nak, jangan sekali-kali memandangi Gunung Lawu lebih dari setengah jam tanpa berkedip,'' ujar Badis, persis seperti ucapan ayahnya sebelum meninggal. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan