Kata Ngerahul tidak tercatat dalam kamus bahasa Indonesia. Kata itu hanya ada di Kampung Kami, Toboali, Bangka Selatan.
Cerpen: Rusmin Sopian
DI Kampung Kami yang damai, Mang Liluk dikenal warga Kampung sebagai narator. Tukang cerita. Pencerita.
Bahkan ada warga Kampung Kami yang menyebutnya sebagai pendongeng. Warga yang ekstrim malah menyebut Mang Liluk sebagai tukang " ngerahul ".
Ngerahul?
Kata Ngerahul tidak tercatat dalam kamus bahasa Indonesia. Kata itu hanya ada di Kampung Kami, Toboali, Bangka Selatan.
Ngerahul diartikan cerita tanpa fakta. Kisah yang mengada-ada. Cerita yang dibuat-buat.
" Warga yang tidak percaya dengan peran saya mendatangkan Pak Gubernur ke Kampung Kita ini adalah warga yang kurang pergaulan," jawab Mang Liluk santai.
Warga Kampung Kami yang berada di Warung kopi terdiam. Mereka hanya saling memandang. Kopi mereka dalam gelas tiba-tiba mendingin. Bak air es.
Cahaya matahari mulai bersembunyi di balik cakrawala. Warga Kampung Kami bergegas menuju Masjid.
Usai sholat magrib berjamaah, para jemaah masjid Kampung Kami tidak satupun yang meninggalkan masjid. Mereka masih asyik mendengarkan cerita Mang Liluk di teras masjid.
" Jadi benar Mang, akan ada petinggi negeri yang akan berkunjung ke Masjid Kampung kita ini?," tanya seorang jemaah.
" Iya. Saya sudah dapat konfirmasi dari orang dekat petinggi tersebut lewat pesan singkat," jawab Mang Liluk santai.
" Wah, hebat Mang Liluk. Informasinya cepat banget," puji seorang jemaah.
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.
Editor : Nur Wachid