Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mereka Bilang, Ayahku Koruptor

Nur Wachid • Selasa, 16 Januari 2024 | 02:21 WIB

(ILUSTRASI: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)
(ILUSTRASI: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)

Sebuah julukan yang akan kami bawa hingga ke liang lahat dan menjadi aib keluarga yang tak bisa dikonversikan dengan segepok uang.

Karya: Rusmin Sopian

Aku terhempas dalam gelombang kehidupan yang hitam pekat. Menyusuri  denyut kehidupan Kota yang terasa gelap.

Semua mata memandang ke arah ku dengan tatapan sinis. Sorot mata penghuni Kota mengandung gumpalan kebencian. Tak ada lagi rasa persahabatan dan  persaudaraan yang menjadi ciri khas warga Kota kami. 

Mereka menjauh dari derap langkah kehidupan kami. Mengucilkan aku dan keluarga besar kami.

Menjuluki aku anak koruptor. Pemiskin kehidupan mereka. 

Penyengsara mereka dan keluarganya yang hidup di alam kaya raya. 

Kakak perempuan ku harus berhenti bekerja karena tak tahan menahan malu berkepanjangan. 

Lalu menyingkir dari Kota Kami. Pindah ke sebuah Desa yang jauh dari Kota. Dia tak mampu menahan desingan narasi hitam yang menghantam gendang telinganya bak desingan peluru di medan perang.

"Tuh anak koruptor," Seorang warga Kota menunjukkan jari manis ke arahku.

"Betul sekali kawan. Dia anak seorang koruptor klas kakap," sambung seorang warga yang lainnya. Sementara beberapa pasang mata melihat ke arahku dengan wajah penuh kemarahan.

Aku hanya terdiam. Menelan ludah yang rasanya tiba-tiba pahit sekali.

Aku sungguh tidak mengerti sama sekali dengan alur pikiran ayahku yang membuat orang tuaku harus menjerumuskan dirinya ke dalam bui yang katanya penuh ribuan duka bagi penghuninya. 

Ayahku bukanlah lelaki yang asing dengan duit. Bagi ayah uang berserakan di atas meja bukanlah pemandangan yang aneh. 

Semenjak aku tahu cahaya dunia yang fana ini, ayah sudah bergelimangan harta. Uang bergepok-gepok di atas meja, di dalam lemari kamar hingga tasnya bukanlah sesuatu yang asing baginya. 

Sebagai anak seorang pengusaha terkemuka di Kota Kami, ayah diwarisi berlimpah harta dan sederet usaha yang secara akal sehat tak mungkin memiskinkannya. 

Uang mengalir deras ke saku celananya hingga ke tabungan bank tiap bulannya dari produk usaha orang tua yang dijalankannya.

"Tujuh turunan keluarga mu tidak akan miskin," demikian celoteh teman-teman ku.

"Keluarga mu memiliki segalanya. Kecuali rembulan dan bintang di langit," sambung seorang temanku yang lainnya.

Aku cuma tersenyum mendengar ucapan mereka.

Sebagai anaknya, aku pun tak habis pikir. Bahkan sering melontarkan pertanyaan. Kenapa ayah tak membelanjakan uangnya yang bejibun itu untuk kemaslahatan orang banyak dengan membangun pusat-pusat pelatihan anak-anak muda di Kota kami biar mereka pintar dan cerdas sebagai aset masa depan bangsa. 

Lagi pula uang sebanyak itu tak akan dibawa mati. Tidak akan dibawa ke dalam kubur.

“Kamu terlalu banyak membaca buku,” Ayah berujar kepadaku pada saat kami berdua asyik berbincang.

“Bukankah dengan banyak membaca, cakrawala berpikir kita luas,” jawabku.

“Kamu belum tahu kehidupan yang sebenarnya, Nak. Kamu masih mahasiswa. Ayah dulu saat masih kuliah seperti kamu, juga berpikiran sama seperti kamu. Idealis bahkan sangat idealis,” jawab ayah sembari tersenyum.

Aku juga tak mengerti alur pikiran ayah,  ketika dia tiba-tiba mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah Kami tanpa berbekal ilmu birokrasi yang kuat. 

Bukankah selama ini ayah tak pernah berkecimpung dalam dunia birokrasi? Ikut dalam kepengurusan organisasi pun ayah tak pernah sama sekali. Paling hanya sebatas sebagai bendahara Masjid di tempat kami tinggal.

Selama ini ayah hanya sibuk dengan urusan bisnisnya. Dari mulai mentari terbit hingga matahari senja bersembunyi dibalik cakrawala, ayah selalu disibukkan dengan urusan bisnis dan bisnis.

“Bagaimana ayah bisa menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas kalau tak menguasai ilmu pemerintahan?,” pikirku sarat dengan keraguan dengan kemampuan ayah. 

Dan aku juga heran dengan cara berpikir para pemilih yang tak cerdas sehingga mereka menghantarkan ayahku menjadi seorang pemimpin daerah Kami.

Apakah mereka menerima uang dari ayah dan tim suksesnya saat memilih ayah di TPS? 

Aku hanya bisa memaki. Hanya bisa menggumam dalam hati. Hanya bisa membatin dengan kejengkelan. Nasi sudah menjadi bubur.

“Ayah bisa belajar. Bukankah belajar tak mengenal usia? Lagi pula ayah tak akan malu belajar dan bertanya kepada bawahan ayah yang pintar-pintar itu,” tegas ayah seolah menjawab keraguanku atas kemampuannya sebagai seorang pemimpin daerah. 

Aku pun cuma terdiam atas jawaban ayah saat itu.

Ayah kini harus menerima stigma sebagai koruptor. Semua orang di Kota Kami menjulukinya demikian dengan nada suara garang berbalut wajah penuh tatapan kebencian. 

Pengadilan telah memutuskan ayah bersalah karena mengkorupsi dana rumah sakit. 

Anak-anak hingga orang dewasa di kota kami tahu dengan predikat ayah sebagai koruptor yang sangat jahat itu dan pekerjaan paling dimusuhi orang dimuka bumi ini.

“Ayahmu orang jahat. Jahat sekali,” ujar seorang teman kepada ku.

“Betul sekali kawan. Ayahmu koruptor,” teriak teman ku yang lain.

“Kami tak mau lagi bersahabat dengan kamu, anak koruptor yang telah memakan uang kami,” sambung yang lain.

“Kami kecewa denganmu yang telah memperalat kami untuk demo anti korupsi. Ternyata ayahmu adalah seorang koruptor,” cetus teman yang lain dengan nada suara penuh kebencian.

Aku hanya terdiam. Tak mampu menjawab. Hanya membisu dan diam seribu bahasa.

Keganasan cahaya matahari yang menyala siang itu, membuat aku sangat terpojok dengan makian dan serapah mereka. Dan aku sangat paham. Bersama mereka, aku yang tergabung dalam Komunitas Air Jahe adalah kumpulan anak muda yang getol memerangi perilaku purba bernama koruptor di kota kami. 

Beberapa kali aku memimpin demo besar di halaman kantor aparat hukum Kota kami untuk menuntut keberanian para penegak hukum dalam mengusut tuntas kasus korupsi yang terjadi di Kota Kami.

Cahaya matahari yang terik siang itu, seolah menamparku dengan cahayanya. Membuat wajahku memerah seolah hendak membakar seluruh tubuh ku yang lesu ditelan narasi hitam yang terus bersenandung menghantam sekujur tubuhku tanpa ampun.

Aku bertandang ke rumah tahanan yang terletak di luar kota dimana ayah kini mendekam. Menghabiskan waktunya dalam bui. 

Aku harus menjenguknya, walaupun dia telah dijuluki semua orang dengan sebutan koruptor. 

Sebuah julukan untuk penjahat klas berat di negeri ini. Sebuah julukan yang amat memalukan kehormatan kami sebagai keluarganya. 

Sebuah julukan yang akan kami bawa hingga ke liang lahat dan menjadi aib keluarga yang tak bisa dikonversikan dengan segepok uang.

Aku harus menjenguknya. Melihatnya. Biar bagaimana pun dia tetap ayahku. 

Ya, dia tetap ayahku. Orang tua ku.

Aku masih ingat dengan pesan ibu sebelum beliau wafat.

“Sejelek-jeleknya ayahmu, dia orang tuamu. Engkau harus menghormatinya,” pesan ibu penuh nasehat.

“Walaupun dia seorang koruptor?” tanyaku.

“Dia ayahmu,” jawab ibu sambil menatap wajahku yang sangat marah dengan aksi purba ayah menguntungkan dirinya dan merugikan orang banyak.

Ku tatap wajah ayah. Tampak kesedihan tergambar dalam wajah tuanya. Senyum manisnya yang selama ini menjadi pelipur bahagia kami saat dia tiba dari kantor, seolah tertutup dalam balutan kesedihan yang terpancar diwajahnya tanpa topeng. 

Ayah seolah merasa malu dengan kehadiranku. Ada rasa sesal yang amat mendalam dari guratan di wajahnya.

“Maafkan kesalahan ayahmu yang telah mencoreng nama baik keluarga,” katanya pelan saat kami bertemu di sebuah ruangan di rumah tahanan.

Aku hanya terdiam. Tak menjawab. Suaraku amat berat untuk menjawabnya. Ku cium tangannya sebagai bentuk tanda baktiku sebagai anak kepada orang tua. Biar dia koruptor dan penjahat kemanusiaan, dia tetap ayah ku. Orang tua ku.

Aku menatap langit. Cahaya rembulan bersinar dengan indahnya. Terangi bumi dengan ikhlas. Tak ada basa-basi dalam cahaya terangnya. Rembulan menerangi bumi dengan setulus hati. Tanpa mengharapkan adanya sebuah harapan dari penghuni bumi, para manusia yang hidupnya beragam corak dan latar belakang.

Aku masih ingat dan sangat ingat, pada suatu malam yang diterangi cahaya rembulan indah, saat aku bersama ayah duduk di belakang rumah dinas yang dijaga ketat sambil menikmati kopi dan ubi goreng kesukaan Ayah.

“Apakah salah ayah mengharapkan sesuatu dari orang yang ayah bantu?” jawab ayah saat aku menanyakan kenapa ayah selalu meminta komisi dari anak buahnya.

“Toh mereka memberikannya dengan ikhlas kok tanpa paksaan,” sambung ayah.

“Kalau mereka tak memberikan ayah komisi dari kegiatan di kantor, maka mereka para bawahan ayah itu akan ayah berhentikan dari jabatannya,” jawabku dengan nada keras. 

Baru kali ini aku berbicara dengan ayah dengan nada suara yang kencang bak para orator demo.

“Aku tak mau ayah nanti akan dijuluki sebagai koruptor kalau tak berkuasa lagi,” sambung ku dengan nada pelan.

“Kamu masih kecil. Belum mengerti apa-apa. Suatu saat nanti kamu akan paham,” ujar ayah dengan suara bijaksana.

Ayah kini harus menjalani hidup dalam bui sesuai dengan perbuatannya yang telah merugikan negara lewat aksi purba nya. Predikat koruptor telah distigma kan kepada orang tua ku oleh semua orang di kota kami dengan nada garang berbalut kebencian.

Ayah dinyatakan bersalah karena menerima uang sogokan dari bawahannya dalam sebuah operasi tangkap tangan dari KPK. 

Kami sebagai anak-anaknya pun harus menerima beban hidup atas perbuatan ayah sebagai koruptor. Sebuah julukan yang amat melukai hati dan jiwa kami. Setetes aib yang harus kami tanggung selama badan masih dikandung.

Aku hanya menghela nafas panjang. Sementara malam semakin menua seiring terlelap nya aku dalam mimpi panjang sebagai anak seorang koruptor hingga ajal ku tiba.[]

Toboali, Januari 2024

 

BIODATA SINGKAT: Penulis juga dikenal dengan nama pena Rusmin Toboali, tinggal bersama istri dan dua putrinya yang cantik jelita di Jalan Suhaili Toha No 56, Toboali, Bangka Selatan, Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Bangka Selatan, karyanya tersiar di berbagai media massa lokal dan nasional, dapat dihubungi melalui 082175268229. 


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam.

 

Editor : Nur Wachid
#Toboali #ayahku #rusmin #koruptor #sopian #mereka bilang