Jawa Pos Radar Lawu - Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu momen paling istimewa dalam bulan Ramadan yang sangat dinantikan umat Islam.
Malam ini diyakini memiliki keutamaan luar biasa karena nilai ibadah di dalamnya disebut lebih baik daripada seribu bulan.
Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, hingga berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT.
Keutamaan Lailatul Qadar bahkan disebut secara khusus dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Qadr ayat 1–5 yang menjelaskan bahwa malam tersebut merupakan waktu turunnya Al-Qur’an serta dipenuhi dengan keberkahan hingga terbit fajar.
Perkiraan Tanggal Malam Lailatul Qadar 2026
Malam Lailatul Qadar diyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.
Jika merujuk pada penetapan pemerintah bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, maka sepuluh malam terakhir Ramadan dimulai pada 10 Maret 2026.
Berikut perkiraan malam ganjil yang berpeluang menjadi Lailatul Qadar:
-
Malam 21 Ramadan: Selasa, 10 Maret 2026 malam
-
Malam 23 Ramadan: Kamis, 12 Maret 2026 malam
-
Malam 25 Ramadan: Sabtu, 14 Maret 2026 malam
-
Malam 27 Ramadan: Senin, 16 Maret 2026 malam
-
Malam 29 Ramadan: Rabu, 18 Maret 2026 malam
Meski demikian, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mencarinya dengan meningkatkan ibadah pada seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Dalam hadis riwayat Bukhari dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.”
Baca Juga: Memburu Lailatul Qadar di Malam Tanggal Genap, Benarkah Bisa Terjadi? Ini Penjelasan Ulama
Mengapa Waktu Lailatul Qadar Dirahasiakan?
Para ulama menjelaskan bahwa dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar merupakan hikmah dari Allah SWT agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Jika tanggalnya diketahui secara pasti, dikhawatirkan banyak orang hanya beribadah pada satu malam tersebut dan mengabaikan malam lainnya.
Karena itu, umat Islam dianjurkan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan dengan berbagai amalan ibadah.
Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar
Walau tidak dapat dipastikan, sejumlah hadis menyebutkan beberapa tanda yang sering dikaitkan dengan datangnya malam Lailatul Qadar, antara lain:
1. Malam terasa tenang dan penuh kedamaian
Suasana malam disebut terasa lebih damai dan menenangkan.
2. Udara tidak terlalu panas atau dingin
Beberapa riwayat menyebutkan kondisi udara terasa sejuk dan nyaman.
3. Matahari terbit dengan cahaya lembut
Pada pagi hari setelah Lailatul Qadar, matahari disebut terbit dengan cahaya yang tidak menyilaukan.
Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar memiliki sejumlah keutamaan yang sangat besar bagi umat Islam, di antaranya:
1. Lebih baik dari seribu bulan
Ibadah pada malam ini memiliki nilai pahala yang setara dengan ibadah lebih dari 83 tahun.
2. Turunnya para malaikat ke bumi
Dalam Surah Al-Qadr disebutkan bahwa malaikat dan Malaikat Jibril turun membawa rahmat serta keberkahan.
3. Pengampunan dosa
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Baca Juga: Amalan Malam Lailatul Qadar, Meraih Berkah di Malam yang Istimewa
Amalan yang Dianjurkan Saat Lailatul Qadar
Agar dapat meraih keutamaan malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amalan ibadah, seperti:
-
Salat malam atau qiyamul lail
-
Membaca Al-Qur’an
-
Berdzikir dan berdoa
-
Bersedekah
-
Melakukan i’tikaf di masjid
Salah satu doa yang dianjurkan dibaca pada malam Lailatul Qadar adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”
Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.
Karena waktunya dirahasiakan, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah.
Dengan begitu, peluang untuk mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar akan semakin besar.(*)
*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani