Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Sebatang Kapur di Papan Tulis

Redaksi • Senin, 25 November 2024 | 22:11 WIB
Sebatang Kapur di Papan Tulis. Cerpen karya Rusmin Sopian didedikasikan untuk Hari Guru Nasional 2024
Sebatang Kapur di Papan Tulis. Cerpen karya Rusmin Sopian didedikasikan untuk Hari Guru Nasional 2024

Cerpen ini didedikasikan untuk para guru di seluruh Indonesia. Yang tersebar dari Miangas hingga Rote. Selamat Hari Guru Nasional 2024 

Sebatang Kapur di Papan Tulis

Cerpen Rusmin Sopian

Subuh mulai menipis. Orang-orang mulai meninggalkan Masjid. Derap langkah kaki mereka menuju tempat kebahagiaan bersama keluarga.

Kesibukan mulai terlihat. Seiring matahari yang mulai memanjat langit.

Umar Bakri sudah mulai bersiap. Tas berisikan peralatan mengajar sudah tersangkut di motor. Kendaraan roda dua yang dibelinya saat masih bujangan. Dan terus menemaninya hingga kini.

"Belum ada niat untuk mengganti motor tahun baru," pertanyaan itu selalu didengar kupingnya.
Dan tawa, senyum dan jawaban lucu diberikannya kepada para penanya yang terkadang ikut tertawa saat dirinya memberikan jawaban.

Motor tua Umar Bakri terus melaju. Melewati jalanan Kampung yang membuat motornya kadang terbatuk-batuk. Maklumlah jalanan di Kampung belum sebagus jalanan di Kota. Walaupun tiap tahun dana Kampung terdengar selalu bertambah dan bertambah.

Perjalanan enam puluh menit menuju rumah pengetahuan, terasa ringan bagi dirinya. Setidaknya sudah puluhan tahun, perjalanan itu dilahapnya.

Umar Bakri sudah hapal betul lekuk anatomi jalan menuju tempatnya memberi pengetahuan sehingga dengan mudah perjalanan itu dapat ditaklukannya.

Biasanya, usai memarkir kendaraan roda dua di tempat parkir yang mulai miring, Umar Bakri langsung menuju pintu gerbang sekolah.

Menunggu para pengejar pengetahuan datang dengan sejuta keceriaan. Dan para pewaris masa depan negeri itu biasanya akan mengucapkan frasa Selamat pagi Pak kepada dirinya.

Dan Umar Bakri pun biasanya menanyakan kepada muridnya berbagai macam pertanyaan sebelum pengejar mimpi itu masuk ke dalam klas masing-masing.

" Apakah kamu sudah sarapan?,"

" Apakah kamu sudah mengerjakan PR?,"

" Apakah ibu dan ayahmu sehat?,"

Dimata para muridnya, Umar Bakri adalah guru tempat mereka bercerita. Ruang hidup bagi pelajarnya berkeluh-kesah. Menyampaikan uneg-uneg.

" Ayah saya sering pulang malam Pak Guru," cerita seorang murid.

" Ayahku banyak di rumah, Pak," keluh seorang pelajar.

" Bapakku bangunnya siang, Pak," kisah seorang murid yang lain. Dan tentunya sederet kisah yang lainnya yang berjejer panjang menghampiri telinganya.

Biasanya usai mendengar kisah dan cerita dari para muridnya, Umar Bakri datang berkunjung ke rumah orang tua para muridnya. Bersilaturahmi. Saling bertukar pikiran. Terkadang pulangnya dioleh-olehi para wali murid berbagai macam produk pertanian. Mulai dari singkong, hingga kelapa.

Tak heran bila, Umar Bakri selalu pulang telat ke rumah. Beberapa tenaga pendidik di sekolahnya pun terkadang bertanya soal pulangnya yang selalu telat.

"Cari pekerjaan saja kawan kita itu," ujar seorang temannya.

Dan pertanyaan dari sang istri pun tak terbendung saat dirinya tiba di rumah.
" Kok lama pulangnya, Pak?," tanya sang istri.
" Ada tugas tambahan di sekolah,ya?," pertanyaan susulan dari sang istri terus menghujani telinganya.

Umar Bakri hanya menarik nafas panjang. Sepanjang pengabdiannya sebagai pendidik. Sebuah profesi yang amat dicita-citakannya saat masih kecil.

" Jadi guru?," tanya seorang temannya saat dirinya mengabarkan bahwa dirinya ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Pendidikan.

" Setiap orang punya cita-cita. Dan setiap impian itu adalah pilihan terbaik bagi masing-masing individu," bela seorang temannya yang lain.

Lulus sekolah tinggi pendidikan guru, Umar Bakri di tempatkan di kawasan ini. Sebuah kawasan yang jauh dari Kota.

Penempatan dirinya tak menyurutkan semangatnya untuk mengabdi sebagai pendidik. Sebagai pemberi pengetahuan kepada para anak-anak pewaris masa depan negeri.

Padahal kalau dia mau, penempatan dirinya bisa di kawasan Kota dekat tempat dirinya tinggal. Ada keluarganya yang menjadi pejabat tinggi di Kabupaten.

" Kami ini bagaimana. Kok tidak protes soal penempatan mu?," tanya seorang temannya.

" Di kota atau di sini sama saja. Profesi saya sebagai guru. Lagi pula kalau semua guru mengabdi di Kota, siapa yang memberi pendidikan untuk anak-anak di Kampung? Mereka yang tinggal di pelosok berhak pula mendapat pendidikan. Itu hak azasi. Di atur dalam konstitusi negara," jelas Umar Bakri.

" Beda kalau ditempat di Kota, saya tiba-tiba diangkat sebagai pejabat," guyonnya.
Temannya cuma mengusap dada mendengar jawaban Umar Bakri. Sementara temannya yang lain terbahak-bahak mendengar sahutan dari Umar Bakri.

Sebatang Kapur yang dituliskannya di papan tulis, telah menjadi sebuah saksi perjalanan hidupnya sebagai pendidik.

Banyak orang yang membaca tulisan yang ditulisnya di papan tulis lewat sebatang kapur telah menjadi manusia seutuhnya.

Ada yang menjadi dokter.

Ada yang menjadi akuntan.

Ada yang menjadi pengacara.

Dan sejumlah profesi lainnya.

Dan itu yang membahagiakannya. Membanggakannya sebagai seorang guru. Sebagai seorang pendidik.

Dikejauhan terdengar koor suara para murid bersenandung. Menggetarkan sanubarinya.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

S'bagai prasasti t'rima kasihku 'tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Pembangun insan cendekia

Toboali, 24 November 2024


BIODATA SINGKAT: Penulis Rusmin Sopian, Alamat Jln Suhaili Toha No 56 Toboali, Nomor kontak. ; 082175278229. Rusmin Sopian, Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Kabupaten Bangka Selatan. Dia dikenal pula sebagai penggiat literasi Toboali Bangka Selatan dan telah melahirkan beberapa buku kumpulan cerpen. Diantaranya Mereka Bilang Ayahku Koruptor dan Penjaga Makam yang diterbitkan oleh penerbit Galuh Patria Jogjakarta. Sekarang Rusmin Sopian tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik.

Editor : Nur Wachid
#Toboali #2024 #cerpen #Sebatang Kapur di Papan Tulis #penulis #GPMB #bangka selatan #hari guru nasional